Potret Kemiskinan
Beberapa hari ini kita dikejutkan dengan berita-berita menyedihkan dari Pasuruan. Ribuan rakyat miskin antre berebut zakat namun berakhir dengan banyak kematian. Jumlah total yang meninggal 21 orang, rata-rata wanita berusia diatas 40 tahun, akibat terhimpit dan terinjak-injak, itu belum korban luka dan yang pingsan. Sangat memilukan !
Berdasarkan berita media, ternyata besar zakat yang akan dibagi-bagikan kepada setiap orang miskin itu hanya Rp.20.000. Siapa sangka, niat untuk mendapatkan uang, yang nilainya bagi sebagian kecil dari kita mungkin tidak cukup untuk memenuhi biaya hidup satu hari, berujung pada nyawa melayang.
Polisi segera mengusut siapa yang bersalah dibalik kejadian itu. Para pemimpin agama pun segera mengeluarkan keprihatinannya, tak ketinggalan MUI mengeluarkan fatwa “andalannya”-haram-untuk zakat yang malah menyebabkan kesengsaraan seperti kejadian kemarin. Pemerintah sendiri tampaknya cukup mengucapkan bela sungkawa atas kejadian di Pasuruan itu.
Potret Kemiskinan
Kalau mau jujur melihat akar permasalahan, kejadian seperti di Pasuruan tak lepas dari kemiskinan yang masih membelenggu sebagian besar rakyat kita. Bayaknya rakyat yang antri pada setiap pembagian zakat atau sembako yang dilakukan segelintir orang kaya, menandakan bahwa masih banyak kaum miskin ada di sekitar kita. Kalau tingkat kesejahteraan hidup mereka sudah baik, tidak mungkin mereka “mbelani” untuk mendapatkan uang yang hanya 20.000 rupiah. Ini merupakan potret nyata kemiskinan masih banyak ditemui di negeri ini.
Lantas, siapa yang harus bertanggung jawab ?
UUD 1945 jelas menyebutkan bahwa “kaum miskin dan anak-anak terlantar dijamin kesejahteraan hidupannya oleh pemerintah dan negara“. Namun kenyataannya, amanat undang-undang dasar itu sampai hari ini, masih diabaikan oleh para pemegang kekuasaan dan birokrat negeri ini. Tampaknya mereka lebih sibuk mengurusi diri mereka sendiri. Padahal, jika saja mereka sadar, mereka ada di pemerintahan dan duduk di kursi empuk birokrasi karena kita–rakyat, termasuk kaum miskin yang antri sampai meninggal berebut zakat. Kita yang membayar semua gaji dan uang pensiun mereka dari uang pajak yang kita bayarkan.
Jika mereka menyadari tanggungjawabnya dan tahu dari mana asal muasal gaji yang setiap bulan mereka terima, seharusnya mereka malu tidak dapat berbuat banyak untuk memperbaiki taraf hidup rakyat miskin yang telah “memberi makan” mereka.


Leave a Reply