Barack Obama

 

Sejak beberapa hari menjelang dimulainya pemilu presiden Amerika Serikat hingga terpilihnya Barack Obama – sebagai presiden pertama dengan garis keturunan kulit hitam — menggantikan si “maniak perang” George W Bush, hampir semua media cetak, elektronik dan internet menurunkan porsi pemberitaan dan mengupas lengkap semua sisi pribadi dari calon Partai Demokrat itu. Bahkan hingga kini–setelah hampir seminggu terpilih dengan selisih suara signifikan dari lawannya John McCain—banyak media masih menurunkan pemberitaan Obama. Sepertinya, ia telah “menyihir dunia” dengan menjadi bahan berita yang tiada habis. Setiap pemberitaannya ditunggu-tunggu orang di seantero bumi. Bukan hanya rakyat Amerika, dunia tak terkecuali Indonesia juga mengagumi sosok perubahan ini.

Dari kaca mata rakyat Amerika, sejak awal pencalonannya hingga detik-detik pemilihan tanggal 4 Nopember kemarin Obama memang konsisten dengan substansi ide perubahan yang dicanangkan. Dengan kondisi ekonomi Amerika yang tidak menentu ditambah hobi presiden Bush yang mementingkan perang, membuat rakyat negeri Paman Sam itu mulai berpikir untuk diadakan perubahan bagi negaranya, dan ini yang dicermati Obama lewat ide-ide brilian dalam setiap kampanyenya ditambah kemampuan orasi membius jutaan warga Amerika untuk mendukung dia jika ingin terjadi perubahan bagi Amerika. Umumnya, kaum minoritas, kelas menengah dan bawah serta warga anti perang mendukung ide-ide moderat Obama, sementara di sisi lain lawannya dari Partai Republik, John McCain masih tidak lepas dari bayang-bayang Bush, bahkan salah satu kebijakan veteran perang Vietnam ini masih akan meruskan perang di Irak dan Afganistan.

Membicarakan Obama dan khasrisma luar biasanya tidak akan pernah ada habisnya. Karena banyak koran, TV dan media internet sudah lengkap membahasnya maka di sini saya tidak akan mengulasnya lagi sebab sudah tidak ada hal yang baru lagi. Mungkin ada baiknya membandingkan dengan kondisi pemilu yang ada di negeri ini. Contoh paling kongkrit adalah pilkada Jatim yang hampir bersamaan waktu pelaksanannya dengan pilpres Amerika.

Sebagai orang yang telah mempunyai hak pilih, saya sebenarnya sudah mendapat kartu untuk pencoblosan pada hari H. Masalahnya, sebagai rakyat biasa saya tidak memiliki gambaran memadai tentang program-program ataupun substansi ide yang ditawarkan para calon Gubernur tersebut bila kelak mereka terpilih.  Meski tiap hari baca koran, tetapi apa yang ada dalam pemberitaan mereka selalu adalah acara-acara seremonial belaka, misalnya ketemu dengan pimpinan ponpes A, B dan seterusnya. Sementara masalah nyata yang ada dan jelas-jelas dihadapi dan menyengsarakan banyak rakyat di propinsi ini tidak pernah dijadikan program serius yang harus mereka selesaikan.

Meskipun tiap hari muncul di media, kesempatan itu tidak mereka manfaatkan untuk memaparkan program-program yang akan mereka jalankan untuk memperbaiki kondisi real masyarakat bawah–korban lumpur Porong misalnya. Tampak jelas kalau para calon Gubernur itu hanya mengucapkan janji-janji klise semata yang sesungguhnya rakyat sudah bosan mendengarnya karena semua janji-jani itu tidak akan mereka tepati. Tak heran bila tingkat golput dalam pilgub Jatim kali ini mencapai 53%, termasuk di dalamnya adalah saya.

Apakah berarti pilihan hati nurani saya dalam pilgub jatim menang ? Yang pasti pemenangnya adalah golput, sayang tidak ada calon yang mau mewakili suara 53% ini. Jadi, jangan salahkan orang-orang seperti saya bila memilih golput. Saya pikir, kalau rakyat indonesia boleh ikutan pilpres Amerika pasti deh saya akan datang ke TPS – TPS untuk menyoblos Obama …

Dalam pilgub Jatim, para calon yang sedang “bertanding” sama-sama pernah menjadi pejabat. Sayang, dari track record mereka belum satupun program nyata yang “membekas” dan patut diingat terus oleh rakyat. Anehnya, jabatan yang mereka perjuangkan saat ini sesungguhnya lebih rendah dari jabatan yang pernah mereka duduki sebelumnya—dulu Menteri dibawah Presiden sekarang memperjuangkan kursi Gubernur dan Wakil Gubernur. Tak heran bila ada orang yang berpikiran sinis, pasti ada “sesuatu” dibalik jabatan itu sehingga mereka berjuang mati-matian hanya demi “sesuatu” itu. Yang ditakutkan, kalau hasil perhitungan suara mengalahkan mereka, mereka akan mencari kambing hitam dan berbagai macam alasan untuk penghitungan ulang, atau akan mengompori para pendukungnya untuk protes KPU dan lain sebagainya. Asal semoga saja tidak sampai berbuat anarki seperti yang terjadi di propinsi Maluku.

Ya, ini lah Indonesia. Pastinya, 50% lebih rakyat kita masih menantikan sosok perubahan seperti Barack Obama. Siapakah sosok tersebut ? Apakah akan muncul di pilpres 2009 ? 

Posting Terkait