Genap Sudah
Akhirnya genap sudah menjalankan ibadah puasa tahun ini. Dibandingkan dengan tahun lalu atau tahun-tahun sebelumnya, pelaksanaan puasa yang saya pribadi jalani kali ini lebih “terasa”. Hasil dari menahan makan, minum dan semua emosi negatif sedikit banyak memberi efek positif terutama bagi tubuh fisik dan jiwa.
Pemahaman akan besar manfaat dan kegunaan puasa bagi tubuh dan jiwa sesungguhnya merupakan pengetahuan umum yang tidak perlu dipertanyakan lagi. Sering kita dengar para ahli medis dan kedokteran mengungkapkan manfaat puasa sangat baik untuk mengatur kembali kerja tubuh, terutama pada bagian pencernaan, yang biasa diforsir untuk mengolah makanan. Ibarat mesin, organ pencernaan pun perlu istirahat dan dibersihkan dari segala kotoran untuk memperbaiki kerja berikutnya. Demikian pula, hampir semua ahli hikmah dan master guru mengutarakan besarnya manfaat puasa dalam melatih jiwa dan emosi kita.
Namun, sebuah teori memang belum akan bernilai apapun bila tidak diusahakan dari niat dan keteguhan hati yang sungguh-sungguh. Demikian pula dengan kegiatan puasa, harus dimulai dari niat dan keinginan serta kerelaan hati mau disiplin agar spirit dan makna puasa yang kita lakukan dapat terasa.
Menurut pemahaman saya pribadi, bukan inti persoalannya kita mampu menggenapkan ibadah puasa tanpa ‘bolong’ sekali pun, atau pun mengharap pahala yang besar dan berlipat-lipat sehingga selama bulan puasa memperbanyak ibadah lain, seperti sholat sunnah. Yang terpenting adalah bahwa kita melakukan puasa untuk diri kita pribadi sebagai manusia—kesehatan tubuh dan jiwa–dan efeknya adalah kepedulian kita terhadap sesama, terutama bagi mereka yang kurang beruntung dari sisi ekonomi.
Jadi bukan untuk “menyenangkan” Tuhan. Karena Tuhan sendiri sudah Sempurna dan Maha Kuasa, seingga tidak memerlukan pengorbanan kita hanya untuk menambah Kesempurnaannya. Mau kita menjalankan puasa 30 hari penuh atau tidak berpuasa sama sekali pun Tuhan tidak pernah berubah, tetap Tuhan yang Maha Sempurna.
Dengan rasa lapar dan haus yang mendera tubuh kita setiap hari, kita terdidik merasakan apa yang sebenarnya setiap hari dirasakan oleh orang-orang fakir dan miskin. Banyak diantar mereka–orang tua, wanita dan anak-anak–untuk makan makanan yang layak sekali dalam sehari saja sangat sulit, dan keadaan seperti ini tidak berlangsung hanya 1 bulan—seperti yang kita rasakan selama ibadah puasa Ramadhan—tetapi bisa mereka rasakan bertahun-tahun atau seumur hidupnya, tergantung dari peningkatan ekonomi yang mereka dapat.
Nah, untuk kondisi masyarakat kita saat ini, puasa yang dimaknai untuk lebih perduli terhadap saudara-saudara kita yang kehidupan ekonominya lemah tampaknya lebih tepat dibanding jika kita hanya berpuasa untuk ibadah ritual semata namun melupakan realitas sosial di sekitar kita. Umat Islam, misalnya, sudah harus mulai melakukan pengelolaan pengumpulan dan penyaluran zakat-zakat yang selama ini terkesan “amburadul” menjadi pengelolaan yang lebih modern—mulai pengumpulan sampai penyaluran yang terkoordinir secara tepat sasaran. Dengan tujuan untuk memperbaiki tingkat kehidupan masyarakat miskin, pengunpulan dan pengelolaan zakat seperti ini tentunya tidak cukup dilaksanakan setahun sekali, tetapi harus setiap bulannya. Asalkan pengelolaan dan penyalurannya jelas dan ada hasilnya, pasti sebagian besar umat muslim atau bahkan umat agama lain akan mendukung sepenuhnya kegiatan ini.
Jika spirit seperti yang terkandung dalam ibadah puasa ini benar-benar terlaksana dengan baik, besar kemungkinannya masalah kemiskinan dan bahkan pendidikan yang saat ini banyak mendera rakyat negeri ini sedikit banyak dapat teratasi.
Kenyataannya, meskipun telah berpuluh-puluh tahun kita melaksanakan ibadah puasa namun realitasnya tetap sama, banyak diantara masyarakat sekitar kita yang taraf hidupan ekonominya masih miskin.
Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin.



October 6th, 2008 at 9:31 pm
Itu dia, ibadah memang sejatinya untuk kita sendiri, bukan untuk Tuhan. Mungkin ada baiknya kita mempertimbangkan sebuah statemen, bahwa seluruh ibadah, orientasinya adalah anthtropos a.k.a antroposentris, bukan terosentris. Tapi ya itu, kita (saya maksudnya) kadung beribadah secara parsial, a.k.a ala kadarnya
October 7th, 2008 at 2:25 pm
Manusia itu kalau tidak diancam terkadang sulit. Karena itu dalam beribadah pun selalu diiming-imingi. Maka, dibilanglah bahwa puasa itu untuk-Ku, dalam sebuah hadits, seolah2 Allah butuh dengan puasa kita. Padahal semua ibadaha itu pada hakikatnya manusia jualah yang akan merasakan benefitnya.
October 29th, 2008 at 4:49 pm
Ibadah ritual memang sejatinya harus inline dengan ibadah perilaku dan sikap tiap hari kita