singkong dan cd murottal

Maaf, judul di atas bukannya mau merusak peribahasa yang sudah baku dan dengan susah payah diciptakan oleh para ahli bahasa, melainkan hanya sekedar pelesetan ungkapan canda yang sering terucap antar sesama teman untuk mengomentari sesuatu yang mengandung maksud terselubung, sebagaimana cerita yang gak penting berikut ini…

Kemarin, saat sholat Jumat di kantor, aku mendapatkan sebuah CD lengkap dengan covernya yang dibagikan secara gratis. Wah, kebetulan sekali. Mendapat barang-barang gratis seperti ini jelas tak akan ditolak siapapun, dengan senang hati pasti diterima, termasuk aku.

Tapi CD apakahkah gerangan ?

Aku sempat mengira-ngira, mungkin saja film atau video seputar Palestina yang akhir-akhir ini sedang memanas situasinya dan jadi bahan pemberitaan hangat seluruh media masa. Mungkin saja dengan menyebarkan CD yang menampilkan rekaman seputar gempuran tentara Israel yang membunuh banyak orang tak berdosa itu akan membangkitkan rasa solidaritas dan simpati yang besar bagi perjuangan bangsa Palestina. Ya, sah-sah saja kupikir….

Segera saja kuperhatikan dengan teliti cover CD itu. Ternyata perkiraanku salah. Bagian depan sampulnya cukup keren dan ada judul :  “Murottal Al-Qur’an 30Juz oleh Sheikh Abdurrahman Assudais”. Sedangkan di bagian bawahnya tertulis dengan huruf besar “GRATIS untuk kalangan sendiri”.

Aku pun merasa berterima kasih pada orang atau kelompok penerbit CD ini yang telah membagikannya gratis ke jemaah Jumat, mungkin tidak hanya di kantorku tapi bisa jadi dibanyak mesjid lainnya. Lumayan, hitung-hitung untuk belajar mendalami Quran dan meningkatkan amal salih. Dalam hati kudoakan semoga amal yang dilakukan penerbit CD murottal ini mendapatkan ganjaran yang setimpal dari yang di atas

Tapi, ketika aku bolik-balik dan melihat sampul bagian dalam dan belakangnya, aku agak kaget. Disitu terpampang mencolok sebuah foto seorang tokoh, lengkap dengan pesan yang tak ada hubungannya sama sekali dengan isi CD.

Singkong & CD Murottal Quran

Si tokoh yang relatif masih muda dan cukup terkenal itu sering tampil di tivi dalam dialog-dialog politik mewakili suara gedung rakyat. Sang tokoh, bukannya bersurban atau memakai kopiah seperti yang selalu melekat pada kyai atau ustadz, tetapi berpenampilan formal lengkap dengan jas hitamnya, bersebelahan dengan logo lambang salah satu partai politik besar negeri ini. Di bagian dalam cover juga menyebutkan alamat lengkap sekretariat dari sang tokoh untuk pencalonannya kembali menjadi caleg.

Wah…wah..wah…apa pula ini. Aku hanya geleng-geleng kepala, ternyata ada udang dibalik rempela

Yang aku agak heran, sepanjang sepengetahuanku si tokoh, dan juga sebagian besar wakil-wakil rakyat lainnya, selama kiprahnya sangat jarang mengunjungi daerah pemilihannya dan menyuarakan kepentingan rakyat yang memilihnya, kalaupun bersuara terkadang malah tidak memihak rakyatnya, tetapi lebih memihak segelintir orang yang lebih berkuasa.

Kini, menjelang pemilihan caleg April mendatang, foto-foto dan posternya mulai banyak menghiasi sudut-sudut kota daerah pemilihan. Tidak cuma itu, koran-koran setiap hari pun memuat iklan sang tokoh plus berita-berita semua kegiatannya.

Aku tak habis pikir, berapa duit yang akan dihabiskannya….

Posting Terkait