Abdi Dalem “Manis Madu”; Dari Keraton hingga Masdjit
Bagi masyarakat tempo doeloe, menjadi abdi dalem keraton adalah sebuah impian. Mereka tak mempermasalahkan besarnya imbalan atas tenaga dan keringat yang dikeluarkan, sebaliknya terkadang nyawa lebih dipertaruhkan agar dapat mengabdikan diri kepada raja. Mereka hanya berharap satu hal dari keraton, yaitu keberkahan.
Keyakinan bahwa raja dan keluarganya merupakan keturunan para dewa membuat abdi dalem ingin mendapat setetes wahyu lewat tangan-tangan raja dan keluarganya, agar mereka hidup mulya di muka bumi dan tenang di akhirat kelak.
Alkisah di keraton Surakarta jaman dahulu, nun jauh dari balik tembok tingi benteng istana, terdapat beberapa abdi dalem yang disebut “manis madu”. Syarat untuk menjadi “manis madu” haruslah gadis berwajah ayu dan bertubuh sintal. Tugas mereka tidak berat, hanya dituntut kesabaran dan keikhlasan tinggi. Ringan karena tugas mereka hanya membuka dan menutup pintu kamar peraduan Sinuhun–panggilan kesetiaan untuk raja—ketika akan memadu kasih dengan permaisuri atau istri-istrinya. Mereka—para abdi dalem manis madu itu–harus sabar menunggu hingga Sinuhun selesai menyalurkan hasrat libidonya.
Selesai nafsu sang raja terlampiaskan, semua istri segera keluar dari ruangan. “Manis madu” langsung berhamburan ke peraduan raja, ada yang merapikan kasur, mempersiapkan pakaian, hingga yang kebagian membasuh “senjata” sang sinuhun yang baru saja dipakai “bertempur” dengan air hangat dan dibilas air kembang. Melaksanakan tugas seperti itu dituntut keikhlasan dari para ‘manis madu” termasuk harus merelakan “miliknya’ yang paling berharga bila diminta raja ketika “senjatanya” kembali tersulut saat dicuci. (ck…ck…hebat juga senjata raja….)
Tidak sedikit orang sinis atau ngedumel seperti rahib kebakaran jenggot atas pekerjaan para abdi dalem “manis madu”. Namun banyak pula yang terkesan sehingga memunculkan ide untuk mengadopsi tugas-tugas “manis madu” bagi kepentingan lain. Jangan heran bila saat ini kita menjumpai jenis pekerjaan yang dulu hanya dilakukan para abdi dalem “manis madu” pada sebuah praktek bisnis yang kian menjamur di pelosok negeri. Apakah itu ? Tidak perlu saya sebutkan anda sendiri mungkin sudah tahu. Ya, itulah “masdjid”—massage dan pijit….

![Reblog this post [with Zemanta]](http://img.zemanta.com/reblog_e.png?x-id=205f532f-0588-4881-8ad2-d5f2acec11b2)

May 26th, 2009 at 5:34 pm
lha ini yg namanya berkah…. sinuhun mendapatkn berkah berupa abdi dalem yg rasanya semanis madu, sedangkan abdi dalem bisa nempil merasakan dahsyatnya senjata sinuhun
guskar’s last blog post..Semua Tentang Cinta
May 26th, 2009 at 5:39 pm
wah…enak banget ya jadi sinuhun…
kucingkeren’s last blog post..Menyentuh Batu di Karangsambung
May 26th, 2009 at 11:23 pm
Kirain teh masjid
ternyata ….
Ah memang dah makin …
May 27th, 2009 at 9:54 am
Waduh..bisa jadi, “panti pijet” diilhami dari jaman raja-2 dulu ya?
HumorBendol’s last blog post..Mayangsari
May 27th, 2009 at 5:13 pm
Rani Julianti mungkin salah satu contoh “manis madu” jaman sekarang!
Dab Penyo’s last blog post..Mengendalikan Komputer Jarah Jauh Via Twitter
May 29th, 2009 at 2:17 pm
#guskar –
# kucingkeren – gak tahu, sy belum pernah jd sinuhun
# bendol – masak iya ?
# Dab – o ya ?
June 11th, 2009 at 12:30 pm
Lebih Josss kalo di suruh minum STMJ tangkur buaya atau tangkur harimau spy bisa lebih NgaUMMM.UMMMM
Tangkur Buaya’s last blog post..STMJ BANG THOYIB
June 12th, 2009 at 5:51 pm
wah pernah nyoba ya bang..???