Setelah berjalan hampir satu minggu, kini aku merasa sedikit plong. Lewat sudah masa-masa penuh kekhawatiran–selama menemani istriku menjalani operasi Laparoskopi. Habis, selama hidup belum pernah aku menemani orang operasi meskipun kata dokter akan aman-aman saja.

Bermula dari saran Dr.EGM. Boediono, SpoG sebulan lalu ketika kami memeriksakan kandungan istriku, saat itu ia menyarankan untuk mengangkat saja myom dan kista yang ada di sekitar organ kandungan istriku, karena ukurannya sekitar 4,5cm. Satu-satunya cara mengangkat myom dan kista dengan operasi, pada waktu itu Dr. Boediono menyarankan untuk melaksanakan saja di Rs. Adi Husada, Surabya, tempat ia bertugas. Soal biaya sekitar 7-13 juta tergantung kelas kamar yang ditempati

Ok, aku juga berpikir tampaknya ini jalan terbaik yang harus kami tempuh, karena sudah hampir 4 tahun kami belum juga dikaruniai momongan. Bukannya tidak ada usaha, segala pengobatan–mulai alternatif, pijat, sampai medis bahkan gonta-ganti dokter pun telah kami lakukan. Hasilnya, aku selalu yakin ini adalah rahasia yang di atas..

Kembali ke rencana operasi, berhubung domisili kami di Sidoarjo, akirnya aku putusan untuk mencari rumah sakit yang berdekatan saja dengan rumah, pertimbangannya supaya wira-wiri rumah sakit-rumah-kantor tidak terlalu jauh. Di Sidoarjo sendiri, ada beberapa rumah sakit yang cukup baik, tetapi dari sekian yang ada langsung saja aku putuskan mencoba Rs. Delta Surya.

Pertama-tama kami konsultasikan dengan dokter kandungan Rs Delta Surya, kebetulan saat itu sedang bertugas dr. M. Hud SpoG. Dari USGb yang ia lakukan hasilnya masih tetap sama seperti analisa dr. Boediono–kista atau Myom tampak melalui alat Ultra Sono Graphy.

Nah, karena kami sudah bulat untuk menjalani operasi, akhirnya aku menanyakan perihal operasi yang akan dijalani istriku, besar biaya dan prospek kedepannya pasca operasi. Saat itu, Dr. Hud meyatakan kalau lebih baik jika istriku menjalani operasi Laparoskopi saja. Apa pula ini ?

Ia menerangkan, laporoskopi adalah teknik operasi terbaru dan canggih yang melakukan pembedahan dengan dampak kerusakan jaringan seminimal mungkin. Selain itu, proses kesembuhan dengan operasi ini akan lebih cepat  dibandingkan operasi besar (sayatan beberapa centimeter di perut). Kok bisa Dok..?

Lebih lanjut Dr. Hud menyatakan, teknik operasi Laparoskopi ini hanya perlu sedikit lubang pada perut. Jumlah lubang yang dibuat ada 3 atau 4 ( pada istriku hanya 3), masing-masing lubang (ukurannya lebih kurang 1cm) untuk memasukkan camera (agar bagian dalam perut yang dioperasi dapat dilihat dari layar monitor), alat bedah (pisau atau gunting yang didesain khusus) dan alat penyedot. Dibandingkan dengan operasi besar (sayatan lebar pada perut seperti halnya operasi sesar), Laparoskopi lebih banyak keuntungannya–proses penyembuhan jauh lebih cepat, kerusakan jaringan sangat minimal, potensi untuk hamil juga lebih besar dan cepat. Tapi biayanya Dok ?

Dalam hati aku pikir, dengan operasi biasa (sayatan lebar) saja harus mengeluarkan sekitar 7-13 juta (kata Dr. Boediono di Surabaya), maka operasi Laparoskopi yang canggih ini tentunya lebih mahal lagi. Akhirnya aku tanyakan juga perihal ini ke Dr. Hud sebelum memutuskan memilih jenis opersi yang mana. “Sekitar 11-12 juta rupiah untuk satu paket operasi termasuk pengobatan dan kamar inap kelas 3,” ia menjawab.

Kok sama biayanya dengan operasi biasa. Dalam hati aku masih belum percaya, mungkin saja Dr. Hud salah sebut. Sepulang dari Delta Surya aku googling perihal ini untuk informasi lebih lanjut, ternyata rata-rata biaya yang disebutkan orang yang telah menjalani Laparoskopi sekitar 20-an juta lebih. Kalau memang benar apa yang dikatakan Dr. Hud, maka aku dan istri 100% memilih operasi ini.

Ternyata memang benar ucapan Dr. Hud, biaya satu paket operasi Laparoskopi sekitar 12 juta. Tanggal 8 jam 7 malam istri mulai masuk rumah sakit, kemudian pagi jam 10 mulai dioperasi. Lebih kurang 3jam kemudian, dokter memanggilku bahwa operasi telah selesai dengan pengangkatan myom dan kista sebesar biji salak yang melekat di daerah rahim dan ovarium istriku.  Aku juga ditunjukkan myom dan kista yang sudah dikeluarkan dari perut istriku beserta foto-fotonya. Dokter menyatakan bahwa operasi berjalan sukses dan kini kandungan istriku telah kembali normal. Dokter juga mengatakan kalau 3 minggu setelah operasi aku sudah bisa “berhubungan” dengan istri. Insya Allah semuanya berjalan lancar, tetapi tetap hasil akhirnya kuserahkan pada Nya.

Kini sambil menunggu sahur, aku sempatkan menulis catatan ini semoga bisa menjadi informasi berguna bagi siapa saja yang akan melaksanakan operasi pengangkatan myiom atau kista. Terhitung sudah 4 hari istriku berada di rumah sakit, besok pagi rencananya ia boleh meninggalkan rumah sakit, pastinya di rumah aku juga tidak akan sendirian lagi…

Posting Terkait