arimbi

Beberapa waktu lalu, aku berkesempatan mengunjungi kampung salah satu teman kantor di Probolinggo. Tepatnya kecamatan Tongas—jarak 2 kilometer berbatasan dengan Nguling, Pasuruan. Wilayah yang sebagian besar berpenduduk petani ini dilalui jalur padat kendaraan antar propinsi Jawa – Bali.

Temanku sendiri berasal dari Nguling, di Tongas ia tinggal di rumah mertua. Latar belakang pendidikan si Fendi, begitu ia dipanggil, adalah pertanian, maka tak heran bila saban minggu ia pulang kampung untuk mengaplikasikan ilmu cocok tanam di lahan miliknya.

Berawal dari beberapa hari sebelumnya, saat tak sengaja ia menunjukan foto-foto yang berlatar belakang kebun cabai. Dalam foto ia berada diantara rerimbunan pohon cabai atau lombok yang sudah berbuah lebat. Untuk hal-hal yang berhubungan dengan alam dan pertanian aku memang langsung tertarik. Bisa jadi nostalgia dengan masa kecil yang kuhabiskan di lingkungan seperti itu. Atau mungkin sudah terlalu sumpek dengan keramaian kota sehingga pikiranku rindu suasana pedesaan.

Langsung saja kurencanakan berkunjung ke kampung Fendi untuk melihat hasil pertaniannya. Dari Sidoarjo ke Pasuruan ditempuh dalam waktu 1,5 jam, tapi bisa 2 jam lebih bila jalur “lumpur Porong” sedang padat. Sampai Pasuruan kusempatkan mampir ke teman masa kuliah dulu, sekalian kuajak ia turut serta. Perjalanan dari Pasuruan ke Tongas sendiri memakan waktu 20 menit.

Sampai di tujuan Fendi langsung mengajak kami makan siang di sebuah warung pinggir jalan, kebetulan sekali perut kami keroncongan sejak di Pasuruan. Sebetulnya, kami ingin kembali mencicipi rawon Nguling yang rasanya kesohor di seluruh Jatim itu. Dengar kabar sih presiden SBY telah berulang kali menikmati masakan khas ini. Berhubung harus putar balik hanya untuk makan rawon, akhirnya kami batalkan niat itu.

Setelah kenyang, kami mulai menyusuri pematangan sawah menuju lahan pertanian Fendi. Sepanjang mata memandang yang tampak hanya hamparan hijau padi yang baru ditanam. Kami pun sampai tujuan, sebuah lahan persawahan seluas 500 meter persegi ditanami 1000 cabai varietas Arimbi. Sebagai orang awam di bidang pertanian aku sempat bertanya-tanya, kok bisa lahan sawah ditanami cabai, apalagi subur dan buahnya lebat. Dulu, waktu di kampung aku pernah melihat saudara ayah menanam cabai, tapi akhirnya gagal panen tak tahu penyebabnya.

 

arimbi

 

Fendi menceritakan bahwa perawatan cabai itu dipercayakan ke seorang pekerja yang mendapat upah 10 persen dari hasil panen. Usia panen sendiri sekitar 3 bulan saat cabai mulai berubah merah. Fendi menanam lombok-lombok itu menjelang hari raya Qurban, sebab biasanya pada saat itu harganya sedang tinggi, antara 5 sampai 10 ribu. Satu pohon dapat menghasilkan 1 kg lebih cabai, kalikan dengan 1000 pohon maka total produksi lebih dari 1 ton. Kebutuhan biaya untuk menanam 1000 pohon cabai sekitar 3 juta rupiah. Bila harga cabai per kilo 10 ribu, maka laba bersih yang diperoleh bisa diatas 6 juta saat panen. Lumayan juga.

Banyak petani di sekitarnya kagum sekaligus heran. Kok bisa lahan persawahan yang biasa ditanami padi cocok untuk cabai, hasilnya luar biasa pula. Berita itu cepat menyebar bak  ditiup angin, termasuk ke telinga para petugas Dinas Pertanian wilayah itu. Mereka pun  menyempatkan diri melihat lombok Arimbi hasil budi daya Fendi. Tak dinyana, ternyata mereka ikut heran…

Yah, melihat lombok unggulan itu para petugas Dinas Pertanian saja keheranan, apalagi aku yang awam masalah ini….

 

Posting Terkait