——————————————————

semak liar

dinginpun tak sanggup berkata
ketika keagunganmu tiba,
mengusik
mencabik

semak liar terbakar sepi
dinding hitam terpaku
harapan bisu
janganlah cepat berlalu

ranting kembali bersemi
angin tiupkan kepalsuan
tapi ia tetap berharap
esok kamu hadir


(sby,20-02-97)

——————————-

dalam bayang

tak nakal dalam bayang
juga tak seperti biasa
ketika dendang kerinduan memanggil
kau hanya sebarkan harum
tanpa terbias wajahmu
kucari-cari
tetap tegar tanpa nafsu

jauh kutatap wajahmu,
tersenyum
lemahkan jantung
urat-urat putus, tak berdaya

duh ratu,
sungguh kau lemahkan daku

(sby, 25-02-97)

——————————–

wajahmu (bakti pertiwi)

cahaya wajahmu
menghujam kalbu
sendu, rindu
pabila bersatu

lama diri dipengharapan
tak mampu jua
hati beku,
kuraba
kurasa

kapankah waktu,
akhir dituju

(sby, 18-02-97)
———————————-

angin kering terlanjur sepi


garis hidup mengalir lepas
seakan tak sanggup mengukir bintang bintang
padahal dibalik kulit kering
dan tulang tulang besar
senandung kebisuan tak pernah mati

tapi, angin kering terlanjur sepi
ia yang tak mau kompromi
karena kebuntuan yang mengaliri
kekecewaan, menembus diakhir
kesadarannya

ketika embun menyentuh di keningnya
barulah dia paham
air akan terus mengalir
dan terus mengalir
sampai pada suatu titik
aku harus ikut di dalamnya

(sby, 01-03-97)

Posting Terkait