Sesuai rencana, hari Sabtu menjelang puasa sekeluarga kami berziarah ke Asta Tinggi, wilayah pemakaman di kabupaten Sumenep, pulau Madura. Makam yang kami ziarahi adalah ibu mertua yang meninggal sekitar tahun 90-an.

Kebetulan Ibu mertua berasal dari sana–ceritanya waktu kuliah dulu di Kedoketeran bertemu dengan bapak mertua di kampus yang sama, Unair Surabaya, cuma beda fakultas. Bapak mertua sendiri sudah wafat, tetapi makamnya ada di Sidoarjo, jadi setiap saat bisa diziarahi. Tiap tahun, ziarah ke Sumenep menjadi acara rutin tahunan kami, sekaligus silaturahmi dengan adik2 ibu mertua yang tinggal di sana. Ini adalah kunjunganku yang ke-4.

Perjalanan dari Surabaya memakan waktu sekitar 4-5 jam, lewat jalan darat dan laut (menyeberang selat Madura). Ya, mudah-mudahan setelah jembatan Suramadu beroperasi–menurut informasi sih sudah bisa digunakan tahun depan–tentu waktu tempuh bisa menjadi lebih singkat (tak perlu lagi naik ferri untuk nyeberang yang makan waktu 30 menit -1jam). Selain itu, menyeberang lewat Suramadu dari Surabaya langsung sampai di daerah Bangkalan, tidak perlu melewati Kamal.

Asta Tinggi
Kami berangkat sekitar pukul 7 pagi dan sampai tujuan jam 13.00, tempat yang kami tuju langsung pemakaman Asta Tinggi. Sesuai namanya, letak tempat ini di daerah perbukitan dengan luas sekitar 2 hektar. (kalau tidak salah kali ya..dikira-kira soalnya)
Mungkin karena tempat pemakaman para raja dan keturunannya, jadi tempat yang dipilih juga harus lebih tinggi dari daerah sekitar.

Gerbang masuk

Yang juga menarik, ternyata di salah satu bagian dari komplek pemakaman ini terdapat makam Pangeran Diponegoro. Lho kok bisa ? Bukan kah makam pahlawan kemerdekaan ini terletak di Makasar ? Itu sih menurut sejarah.

Waktu 2 tahun lalu aku ke Asta Tinggi, kebetulan adik ibu mertua yang masih hidup menceritakan sedikit sejarah pemakaman ini dan menunjukan langsung letak makam Pangeran Diponegoro. Bahkan, ia bertutur kalau Mendikbud pada waktu itu, Fuad Hasan, sempat tak percaya dengan kenyataan itu dan lalu membuktikannya dengan membongkar makam tersebut termasuk melihat semua bekas peningalan Diponegoro yang ada, baru lah Fuad Hasan percaya makam tersebut benar-benar Pangeran Diponegoro. Masalahnya, Fuad Hasan tidak bisa begitu saja mengubah cerita sejarah yang sudah terlanjur tertulis di buku-buku pelaran sekolah kita. Dalam komplek pemakaman itu, selain ibu mertua juga ada makam adik, nenek dan kakek serta keluarga lain dari ibu mertua.

gerbang asta t

Nyak Piin
Selesai ziarah, perut kami mulai “keroncongan”, nah waktunya makan siang…Langsung saja menuju ke daerah jalan Kartini, kemudian masuk gang ke arah selatan–lupa apa nama jalan gang ini (persis dekat jalan Pujangga)–tetapi yang pasti kami sedang menuju warung terkenal langganan kami, Nyak Piin (kalau tak salah begitu istriku menyebut), pemilik warung keturunan Tiongha yang menjual panganan Soto dan Rujak asli Sumenep. Biarpun keturunan Tiongha, sehari-hari Nyak Piin selalu berbahasa Madura halus khas Sumenep kepada setiap orang, peribahasa mengatakan “dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung…”

Soto dan rujak Nyak Piin memang beda dengan rasa soto dan rujak yang sering aku makan di Surabaya. Soto tersebut lebih kuat rasa babat-nya, selain itu terdapat campuran ketela goreng yang membuat rasa soto asli Nyak Piin ini terasa lebih gurih dan sedap….

Keris
Selepas makan, aku menuju ke rumah teman masa kuliah dulu, letaknya di jalan Pujangga, tak jauh dari warung Nyak Piin. Biasa, ketemu teman lama selalu ngobrol ngalor-ngidul. Mulai dari pekerjaan, kabar-kabar teman lama, tapi yang paling seru adalah masalah perempuan–bukan apa-apa, teman satu ini selalu gagal bila berurusan dengan wanita yang akan dijadikan calon istri…Habis, seleranya adalah wanita-wanita berwajah artis (mirip Nafa Urbach, Lidya Kandou, dan sederetan lainnya), sedangkagkan teman saya ini kurang mengukur diri, wajahnya saja lebih mirip Kirun…pelawak lucu itu..he..he

Pada akhirnya, karena tidak ada wanita yang mendampingi, tiap malam rumah teman ini menjadi markas perkumpulan teman2nya temanku tadi, sudah pasti semuanya laki-laki. Bisa dibayangkan, akhirnya rumah tersebut lebih mirip kandang sapi ketimbang rumah manusia. Ini terbukti, waktu aku mampir ke situ hendak mandi dan buang air, akhirnya batal begitu melihat kamar mandi seperti bekas banyak kotoran sapi…

Nah, ketika asyik ngobrol dengan si Rudi–nama teman saya ini–datanglah salah satu anggota dari perkumpulan teman2 Rudi. Namanya pak Rahman (sudah sepuh ini orang), asli dari Pamekasan. Ketika itu ia sedang membawa sebilah keris, tidak tahu datang-datang kok bawa keris, merinding aku…

Keris Sumenep
Keris Sumenep. Tanda panah menunjukan binatang sebesar lalat

Pak Rahman bercerita, kalau keris ini asli keris Sumenep. Bentuk dan desain sangkurnya sih biasa, warna kuning keemasan. Ujarnya, ” Keris ini memiliki banyak kekuatan. Buktinya, ketika saya letakkan di luar, ia langsung didatangi oleh binatang ajaib berwarna kuning emas.”

Binatang seukuran lalat berwarna emas, menempel di keris
Binatang seukuran lalat berwarna emas, menempel di keris

Hampir tak percaya, aku suruh dia untuk membuktikannya, dan kemudian meletakkan keris tersebut di teras rumah Rudi. Satu menit ditinggal, aku sedikit kaget ternyata omogan pak Rahman ada benarnya, ada binatang sebesar lalat, cuma warnanya kuning emas, jumlahnya ada 3 atau 4 ekor. Sebagai kenang-kenangan, aku foto keris tersebut agar bisa kutunjukan pada teman-temanku nanti, paling tidak akan menjadi bahan obrolan yang menarik nanti.

Sampai di Surabaya, kebetulan aku ngobrol dengan salah satu teman kantor yang sarjana pertanian. Teman dari Pasuruan ini mempunyai hobi main sepak bola dan akhirnya mengantarnya sebagai pelatih (ini pekerjaan sampingan) bola di kampoeng-nya, Nguling, Pasuruan. Di kantor, kami senang menyebutnya “Pek”, “Jek”, ” Je” dan sejenisnya. Teman ini memang sangat supel dalam bergaul.

Ketika aku ceritakan perihal keris Sumenep tadi padanya, pertama-tama ia agak takjub, tetapi lambat laun ilmu pertaniannya mulai keluar.
“Begini pek,” katanya. “Menurutku yang hinggap di keris itu bukan binatang jadi-jadian, tetapi ya benar-benar binatang, yaitu lalat buah.”
“Kok bisa Pek ?” tanya ku.
Lalat buah itu warnanya memang kuning keemasan, sukanya menyerang buang-buah yang sudah matang. Bahkan lalat buah itu bisa didatangkan menggunakan zat tertentu yang memiliki bau aroma tertentu, dalam jarak 1 kilo meter ia bisa mencium bau tersebut Pek.” timpal si “Pek” tadi.

Bactrocera dorsalis
Bactrocera dorsalis (lalat buah)

Untuk membuktikannya, cepat-cepat aku buka google, kumasukkan keyword “lalat buah”, Enter. Hasilnya ternyata memang hampir 100% perkataan si “Pek” tadi benar.

Dari situ, membuktikan kepadaku bahwa sesuatu hal yang dianggap “mistis” sebenarnya karena kita belum mengetahui ilmu yang dapat menjelaskannya. Kalau sudah tahu tentu kita akan memandangnya dari perspektif yang lebih masuk akal.

Posting Terkait