Dasar Sarjana Gak Punya “Utek”
Awal tahun 1999, baru saja kutamatkan kuliah dan meraih gelar sarjana. Rasanya lepas semua beban yang selama ini memenuhi pundak, hingga kuputuskan untuk rileks sejenak dan memanjakan diri sepuas-puasnya.
Ada kabar dari seorang teman, Zain begitu sebutannya, hendak berlibur ke Bali bersama orang tuanya. Merasa hanya akan menjadi obat nyamuk bagi orang tuanya, maka aku dan Cahyo, teman lain yang juga baru wisuda ditawari ikut serta. Kebetulan sekali, belum pernah kuinjakan kaki di Pulau Dewata.
Akhirnya kami bertiga berangkat dari Surabaya ke Jember, tempat tinggal orang tua Zain. Dari Jember, baru esok paginya ke Bali naik mobil ayah Zain yang seorang profesor ekonomi Unej. Berenam dengan sopir perjalanan kami tempuh selama 5 jam.
Sepanjang perjalanan bisa ditebak siapa yang paling ramai, ia adalah ibu Zain. Sedangkan Prof. Kadarisman, ayah Zain lebih banyak diam dan sesekali adu mulut dengan sang istri, profesor selalu kalah. Zainudin sendiri hanya cengengesan, apalagi kalau orang tuanya sedang berantem.
Zain memang diberkahi wajah unik, setiap kali ketemu bawaan anak ini ketawa melulu. Bahkan aku ingat betul pada jam-jam kuliah dulu, dalam ruang kelas pun dirinya tak lepas dari tawa. Kalau sudah tak terdengar suaranya, bisa dipastikan ia tertidur lelap saat pak dosen sedang menulis rumus-rumus matematikanya. Beda jauh memang anak dengan ayahnya yang profesor.
Aku tak habis pikir dengan pembawaan Zain seperti itu. Mungkin perpaduan antara ayahnya yang pendiam dan cenderung kaku sehingga Zain suka tertidur, dan ibunya yang hobi mengoceh yang mana sifat tersebut menurun kepada Zain sehingga ia suka cengengesan.
Sifat aneh lain anak ini adalah hobi mengoleksi nomor telepon cewek, baik yang dikenal maupun tak dikenal. Pernah suatu ketika aku ditunjukan sebuah buku saku, isinya tak lain dan tak bukan daftar nama-nama cewek, lengkap dengan nomor teleponnya. Ketika kutanya darimana saja ia mendapat koleksi itu, singkat jawabnya sambil cengengesan, “Ada aja ah…”. Saat itu, Zain masih belum wisuda, tinggal menyelesaikan tugas akhir.
Sampai di Bali, kendaraan berhenti di hotel Sanur. Orang tua Zain segera masuk hotel, kupikir ia check in. Beberapa saat kami menunggu, tak juga mereka mereka kembali. Aku dan Cahyo perpendapat kalau kami harus segera mencari penginapan untuk malam hari. Kami tahu diri, tak enak menunggu ayah Zain mengusir kami untuk mencari penginapan sendiri. Kami putuskan mencari losmen kecil-kecilan, Zain pun ikut setelah titip pesan kepada sopir agar disampaikan kepada orang tuanya perihal maksud kami. Waktu itu telepon genggam masih langka, akan sulit komunikasi bila sewaktu-waktu Zain dicari ayahnya.
Beberapa jam berjalan kaki akhirnya ketemu penginapan murah dan bersih, satu kamar kami booking bertiga dan ditanggung renteng. Usai menyelesaikan pembayaran, kami balik hotel Sanur. 3 jam mencari penginapan jalan kaki membuat sendi-sendi terasa lepas, kami berharap sesampai di hotel ayah Zain mengajak makan siang.
Di hotel, pak sopir memberitahu kalau Zain sedang dicari ayahnya. Dalam hati aku lega dan berharap ia segera mengajak kami makan, maklum perutsudah kelaparan. Ketika kuminta Zain menemuinya, ia menolak keras sambil menuding kearah lobby hotel, di sana berdiri ayahnya dengan raut wajah yang aku sendiri kurang paham. Zain bersikukuh enggan sendirian menghadap ayahnya dan meminta kami menemaninya, tetapi kemudian Cahyo yang enggan ikut.
Akhirnya aku inisiatif menemani Zain. Berdua kami menuju profesor yang wajahnya tidak mirip sama sekali dengan anaknya. Di depan bapaknya Zain tampak kikuk, tidak cengengesan seperti biasa dan terpaku memandang tanah, pasti ada sesuatu yang kurang beres. Aku berusaha pasang senyum semanis-manisnya menatap prof Kadarisman, satu tangannya masuk ke saku celana.
“Darimana saja kalian ?” tanya profesor dingin. Tak ada suara dari mulut Zain, aku pun menjawab.
“Kami baru saja mencari penginapan pak, dan sudah dapat sekamar bertiga”, jawabku pasti.
Tiba-tiba mimik wajah profesor berubah, sorot matanya tajam mirip macan hendak menerkam mangsanya.
“Kalian sadar, berapa jam sudah kalian keluar, tidak minta ijin lagi !??” semburat amarahnya.
“Kalau mau jalan-jalan mbok ya pamitan dulu gitu, membuat orang kebingungan !”
“Katanya sudah sarjana !” ia terus menatapku seolah-olah semua kesalahan ada padaku.
“Dasar sarjana gak punya “utek” !!” ia akhiri sumpah serapahnya kemudian berbalik dan masuk lobby hotel. Kulirik Zainudin hanya pringas-pringis.
“Sial !” teriaku dalam hati. Kok jadi aku yang disalahkan. Kalau yang sarjana dibilang gak punya otak apakah yang belum sarjana dianggap gak punya kepala… ?? Kulihat si Cahyo hanya mesam mesem melihat aku dan Zain dimarahi. Dasar semprul anak itu makanya ia tak mau menghadap …

![Reblog this post [with Zemanta]](http://img.zemanta.com/reblog_e.png?x-id=dd2adb56-6b64-407e-8972-bd43164a2ef5)

May 28th, 2009 at 7:56 pm
KAlo gitu…yang masih SMA, dibilang “gak punya badan”?
hehe….
ada-2 saja…
Bilangin ke profesornya bang… “Gak punya Rambut”
hehe…
Bang..maaf, aku nyontek online visitornya. Abisnya unik
hehe
Makasih
HumorBendol’s last blog post..Berada diantara ketidakpastian
May 28th, 2009 at 9:23 pm
Ok. Enjoy aja mas…
May 29th, 2009 at 7:00 am
Masih untung di sebut sarjana yaaa…he…he…he…coba
disebut anak kebo…kucing kurap….waaah…kira-kira bapaknya
apa dong…?
Orang klo dah tua gitu seenak udel ya ngomongny, asal puas hatinya…(sungguh…teganya…teganya….)
Cheers!
Koment balik fren….support me…THANKS….
May 29th, 2009 at 2:04 pm
tapi kita sudah memaafkan kok dan bahkan pengalamannya yg unik itu selalu lucu kalau diingat
May 29th, 2009 at 3:40 pm
bukan ga punya..
tapi “utek” nya lagi ‘ga di pake
hehe..hee…
May 31st, 2009 at 7:50 am
waduh keterlaluan tu, nggak punya utek payah lalu yang buat mikir untuk mendengarkan itu dari otak kiri/kanan ya
masnoer’s last blog post..Fatwa-fatwa
June 2nd, 2009 at 10:20 am
hi..hi Dasar MKR
bang jampang’s last blog post..Patung Dewa Wisnu
June 10th, 2009 at 9:27 pm
Semoga propesor itu bukan saya, karena saya nggak punya anak yang namanya Zain…
marsudiyanto’s last blog post..Ada atau Tidak Ada harus Ada
June 11th, 2009 at 11:02 am
oh…bapak juga profesor toh pak….
June 11th, 2009 at 11:01 pm
@pak mars ; ouw.. pak mar itu pudah profesor to…..
ircham’s last blog post..Ruang Sahabat
June 25th, 2009 at 1:37 pm
He he he he he……….Ndak jadi makan gratis…..khiks khiks khiks…..
dariman’s last blog post..Cara bergaul dengan Si dia…..
October 13th, 2009 at 3:16 am
Hehe,,lucu juga nih ceritanya..:))
December 18th, 2009 at 6:38 pm
yah…cerita nya lucu banget…otak udang kali…kebanyakan makan otak udang
March 5th, 2010 at 12:22 pm
hahahhaah, cerita nya lucu sekali
July 26th, 2010 at 11:13 pm
Heya i got to your site by mistake when i was searching bing for something off topic here but i do have say your site is really helpful, like the theme and the content on here…so thanks for me procrastinating from my previous task
July 26th, 2010 at 11:19 pm
Belum pernah kesan aneh.. kapan-kapan deh mas nyoba ke Pantai lombang..
July 27th, 2010 at 12:34 am
Saya ga sempet ke sana, cuma bisa menyaksikan lewat udara saja
July 27th, 2010 at 12:39 am
kabarnya bai mas Ary…lama tak bersua ya.hehehe