Ini kejadian saat semester pertama kuliah di PTKI (Pendidikan Teknologi Kimia Industri) di kota Medan. Hampir setiap minggu pulang ke rumah di kampung, 25 km arah utara Medan, untuk melepas rindu pada orang tua, sekalian ambil jatah uang saku kuliah. Di Medan aku kost di rumah sepupu yang sudah menikah. Sabtu pulang ke desa, minggu sudah kembali lagi, transit lebih dulu di kota rambutan, Binjai, tempat saya dulu menghabiskan masa-masa smp dan sma.

Setiap transit di Binjai, saya berjalan kaki melewati “pajak” (di Jawa disebut pasar) untuk mengamati berbagai aktivitas penjaja kaki lima, mulai yang menawarkan buah-buahan, roti, pakaian, hingga para penipu yang sering cari untung dari kelengahan pejalan kaki. Semua pemandangan itu sedikit demi sedikit membukakan mataku akan kehidupan pasar kota. Dari Binjai ke Medan biasa kutempuh naik angkot. Di dalam angkot tidak jarang kutemui pengalaman unik seperti kejadian berikut ini.

Seperti biasa aku menumpang angkot warna kuning tujuan kota Medan. Angkot yang disebut “sudaco” itu mirip sebuah truck berukuran mini dengan tempat duduk berhadap-hadapan di belakang sopir. Sopir dan penumpang dipisahkan sebuah partisi kaca, bila penumpang mau turun, tinggal memencet tombol di langit-langit mobil dan sopir pun segera meminggirkan kendaraan.

Pada waktu itu, dalam angkot terdapat 4 lelaki dan seorang wanita yang membawa bayi. Dua diatara laki-laki itu berumur empat puluhan, duduk di bangku paling belakang berpenampilan mirip orang kantoran, berkemeja dan bersepatu lengkap dengan tas kerja. Seorang tua umur sekitar enam puluhan duduk di sebelahku, rambutnya hampir memutih semua. Sedangkan lelaki terakhir berumur sekitar tiga puluhan, berpenampilan aneh dan rambut acak-acakan dengan sebuah tas kecil di tangan kanan, persis bersebelahan dengan wanita yang membawa bayi. Dudukku berhadap-hadapan dengan wanita itu.

Belum 1 km kendaraan bergerak kenehan mulai terjadi. Sejak duduk, mataku tak lepas dari tingkah aneh lelaki disebelah wanita yang memangku bayi. Aku mulai curiga, tangan kanan laki-laki itu sejak tadi berusaha memegang kepala bayi, rupanya ia mengincar kalung emas di leher bayi, untungnya si ibu sadar, segera dijauhkan bayinya dari tangan lelaki berwajah sadis itu. Hatiku tak terima dengan keadaan itu. Mataku “meminta” bantuan 2 lelaki lain yang duduk di bangku belakang, namun kelihatan mereka sibuk urusannya sendiri, sedangkan pak tua di sebelahku berdiam diri.

Beberapa saat berselang akhirnya angkot berhenti, pak tua di sebelahku rupanya mau turun. Pada saat melewati 2 lelaki yang duduk di pintu belakang, salah satu lelaki berpenampilan rapi mencoba menarik dompet pak tua yang kakinya hampir menyentuh aspalt jalan, aku terperangah. Untungnya dompet yang akan disaut tak kena, selamatlah pak tua sampai tujuan. Kini aku sadar kalau ketiga orang bersamaku dalam angkot adalah kawanan pencopet.

Dalam batin aku harus berbuat sesuatu guna menghentikan tindakan para pencopet. Tak jauh berselang, sopir kembali menghentikan kendaraan, rupanya seorang penumpang wanita naik. “Kenapa tak polisi atau TNI saja yang naik”, aku berharap. Sebelum kendaraan melaju, secepat kilat aku turun dan pindah ke depan bangku sopir. Kepada sopir kulaporkan bahwa ada 3 pencopet sedang beraksi, sopir diam saja.

Selama perjalanan, setiap aksi dan gerak gerik kawanan pencopet itu kuperhatikan dan kuanggap “rendah” semua tindakan mereka. Ketika akhirnya penumpang terakhir turun, salah seorang yang kelihatannya pemimpin copet pindah ke depan, duduk mengapitku didekat sopir. Aku tak merasakan firasat apa pun, tetapi jantungku mulai berdetak kencang. Tak lama kemudian ia angkat bicara.

“Tujuanmu ke mana?”, nadanya agak manis untuk seorang pencopet.

“Medan tenggara pak, “jawabku tersedak.

“Sekolah atau kuliah dimana ?” lanjutnya.

“Jica Jepang di Menteng”, aku mulai takut, sopir di sebelahku hanya diam menatap jalan di depan.

“Kau tahu, walaupun kami ini pencopet tapi kami punya harga diri !?” satu tangannya melingkar di leherku, aku mulai merinding.

“Jangan kau pikir dengan pekerjaan kami, tak pernah kami pulang pergi Jakarta-Medan naik pesawat !!?” nadanya tinggi, jari-jari tangannya mulai menarik-narik rambutku, “Kami punya organisasi besar, tiap tahun kumpul di Jakarta dan aku selalu pergi kesana naik Garuda. Supaya kau tahu itu!!” sambil terus menarik-narik rambut dekat telingaku.

“Aku tahu kau tak pengalaman, lain kali kalau ketemu orang macam kami jangan main-main. Jika tak ada aku, kau pasti sudah dicincang anak buahku!!.”

Setelah kalimat terakhirnya dia meminta sopir meminggirkan kendaraan, lalu memberi aba-aba turun kepada temannya. Mungkin merasa terhina karena sudah kupandang “rendah” salah seorang pencopet bertampang sangar menghampiriku dan memuntahkan bogemnya ke wajahku, untung saja pemimpin copet tadi menghalang-halangi sehingga wajahku masih tetap utuh. Dalam hati aku bersyukur pemimpin kawanan copet itu baik hati dan mau melindungiku dari amukan temannya, meskipun rambutku sempat dijambaknya … dasar pencopet !!

Reblog this post [with Zemanta]

Posting Terkait