Ini kisah saat aku kecil, sekitar 25 tahun silam ketika masih duduk di bangku SD antara kelas 4 sampai 6. Di suatu desa yang mungkin belum dikenal siapa pun karena setahuku tak ada orang hebat lahir dari dusun ini.

Nama desa ini Besilam, masuk dalam satu wilayah kabupaten di provinsi Sumatra bagian utara. Seorang pujangga terkenal pernah lahir dan dimakamkan di daerah ini. Namun tempat sang pujangga sangat jauh dari tempat kami, lagi pula ia terlahir sebagai bangsawan terkenal di sebuah istana, sementara aku hanya anak seorang pegawai yang tinggal di rumah dinas perkebunan. Ini hanyalah sepenggal cerita perjalanan hidupku ketika otakku mulai mengingat kejadian-kejadian masa kecil.

Waktu itu, ayahku pegawai rendahan di sebuah kantor perkebunan milik perusahaan pemerintah. Biar begitu, dengan gaji bulanan ia masih mampu menghidupi 6 anak plus 2 keponakan yang yatim piatu. Tapi itu hanya untuk makan, untuk pendidikan anak-anaknya aku rasa ia harus memeras otak lebih keras agar cita-citanya yang tak kesampaian diwaktu muda dapat terwujud.

Mungkin salah ayah juga menghasilkan banyak anak tanpa memperhitungkan kemampuan ekonominya. Coba kalau ia ikut program Keluarga Berencana barangkali tak akan kewalahan, atau mungkin program KB waktu itu belum ada sampai adikku paling bungsu lahir sekitar akhir tahun tujuh puluhan. Untuk orang dulu, setengah lusin anak terbilang sedikit, sebab melihat tetangga-tetangga yang lain ada yang jumlahnya 14, 15, paling sedikit 8.

Ayah hanya tamatan sekolah lanjutan atas. Berdasarkan ceritanya pada kami ketika sedang istirahat di ladang suatu minggu sore, ia bercita-cita ingin jadi sarjana atau apapun yang penting sekolah setinggi mungkin untuk memperbaiki nasib keluarga. Berhubung tak dapat mengandalkan penghasilan ibunya (nenekku) yang petani–ayahnya (kakek aku) menikah lagi dengan wanita lain saat ayah masih kecil–maka harapannya pupus sampai SMA. Namun demikian, cita-citanya tetap menjadi mimpi dan ingin digapainya dalam bentuk lain.

Saat pertama kali bekerja di perusahaan perkebunan itu banyak atasannya yang langsung menyukai karena sifat ayah yang rajin, mau belajar dan pekerja keras. Latar belakang miskin memacu semangatnya untuk mengubah nasib, memperbaiki masa depan, memberi cukup pendidikan bagi anak-anak dan membahagiakan ibunya, orang paling dicintainya di dunia ini.

Ayah memang rajin bekerja, pergi pagi pulang sore. Ia juga senang olah raga, sepak bola permainan favoritnya. Kalau sudah mengocek bola, 3 atau 4 pemain lawan sangat mudah dilewati. Aku sendiri banyak melihat aksi-aksinya saat ia berlatih dengan teman-teman sekantor. Sesudah berhenti main bola ia pun rela melatihku dan teman-teman, tapi saying berhubung tak ada lawan tanding maka latihan kami angin-anginan dan berakhir tanpa hasil. Selain sepak bola, tinju adalah kesukaan ayah meskipun hanya menonton di layer TV. Pokoknya jika ada pertandingan tinju, anggota keluarga yang lain dilarang menggangu.

Ayah juga mantan pemain musik yang handal. Bersama grup bandnya, ia bermain sebagai drummer. Bukan berarti tak dapat memainkan alat musik lain, buktinya gitar pun dikuasainya. Tak heran bakat musik sedikit banyak menurun pada anak-anaknya, paling tidak adik perempuanku tiap pagi dan sore selalu bersenandung di kamar mandi, ia bisa betah sampai 1 jam lebih, bahkan kalau tidak diteriak agar cepat keluar bisa bertahan sampai 2 jam. Kakak lelaki sulung kami juga lihai memainkan gitar, sedangkan aku sendiri hobi mendengarkan segala jenis musik.

Namun kehebatan ayah di panggung belum pernah kusaksikan sendiri, menurut ceritanya kegiatan musik bersama bandnya dilakukan sebelum ia menikahi ibuku. Ia mengatakan salah satu lagu favorit yang sering dimainkan bandnya berjudul SEROJA. Percaya begitu sajakah aku dengan semua ceritanya ? Ya, karena ada foto-foto hitam putih peninggalannya saat ia sedang beraksi di panggung. Selain itu, waktu bandnya bubar ia masih sempat menyimpan sebagian alat musiknya, seperti gitar listrik dan peralatan drum. Disimpannya di plafon belakang rumah kami yang terbuat dari kayu tebal dan berfungsi sebagai gudang. Aku sendiri sepulang sekolah jika tak ada kegiatan lain akan naik ke plafon dan menggebuk-gebuk drum peninggalan ayah.

Satu lagi hobi ayah adalah senang dengan masalah pertanian. Mungkin karena latar belakang orang tuanya petani maka bakat bercocok tanam menurun padanya. Jadi pasca bubar grup band setelah menikah, di luar jam kerja ia sempatkan berkebun. Selain menanam sayur mayur seperti terong, timun dan cabai di pekarangan belakang yang luas, ayah pun bercocok “tanaman keras” berupa pepohonan penghasil getah berwarna putih dari kulit batangnya yang dijual untuk kebutuhan industri.

Barangkali mengikuti tren yang berkembang saat itu ia berkebun karet pada tanah seluas 3 hektar, hampir dua kali luas lapangan sepak bola. Saat itu memang banyak orang menanan karet, atau mungkin karena perusahaan tempat ayah kerja juga menanami jutaan hektar lahan dengan pohon yang tingginya mirip pohon kelapa itu sehingga mestinya ia banyak belajar cara menanam dan merawatnya. Bisa jadi pula ia mengetahui prospek kedepan petani karet sehingga diharapkan kelak akan menambah pemasukan. Paling tidak aku melihat ayah jauh-jauh hari telah mempersiapkan sumber pemasukan lain bagi keluarga dan biaya pendidikan keenam anaknya. Disadarinya, dengan gaji bulanan yang tak seberapa dari perkebunan, mustahil ia mampu membiayai pendidikan semua anaknya sampai tingkat sarjana.

Nah, selain bercocok tanam ternyata ayah juga peternak hewan. Mau tahu apa yang dipelihara? Ayam, bebek, ikan dan paling asyik adalah kambing dan sapi. Kusebut asyik karena kambing yang jumlahnya puluhan ekor aku sendiri yang merawat setiap hari. Sepulang sekolah kukeluarkan semua kambing dari kandangnya kemudian kugembala di wilayah perkebunan. Disela-sela itu, masih kusempatkan mencari rumput untuk makanan kambing di kandang. Tak lupa kotoran dan tahi kambing yang berserakan dalam kandang juga aku bersihkan tanpa sedikitpun merasa jijik.

Menjelang maghrib aku masukkan hewan-hewan itu ke kandangnya. Tak lupa kubuat perapian dari beberapa ranting dan potongan kayu karet kering. Seperti manusia, hewan juga butuh kehangatan di malam hari.

Sudah tak ingat lagi apakah semua itu kulakukan karena terpaksa disuruh ayah atau tidak. Yang pasti, dari 4 lelaki bersaudara dikeluarga, hanya aku yang melakukan. Anehnya, semua itu kujalani tanpa beban bahkan hingga hari ini bagian terbesar keindahan hidupku di masa kecil adalah saat-saat berpetualang bersama kambing dan sapi.

Reblog this post [with Zemanta]

Posting Terkait