Ayah dan Cerita Masa Kecil (5)
Di kampung dulu hanya ada tiga keluarga yang ternak sapi, pak Yasir, uwak Shalihin dan Ayahku. Pak Yasir, sering dijuluki uwak Cebol karena tubuhnya pendek, memiliki 5 sapi dan dipasrahkan penjagaannya pada dua anak perempuannya, Ninin dan Entit, sedangkan uwak Shalihin menyerahkan ketiga sapinya pada anak keenamnya, Anto. Ayahku sendiri baru belakangan membeli 2 sapi dan tetap mempercayaiku.
Kami bertetangga, rumah Anto dan Ninin bersebelahan hanya terpisah dinding-dinding papan kayu, sedangkan tempat tinggalku dengan mereka dibatasi barisan tanaman Jarak. Di samping rumah terdapat halaman luas yang biasa digunakan ayah tiap sore melatihku bulu tangkis. Dari lapangan ini bakat kakak ketiga berkembang pesat dan mengantarkannya juara sekecamatan. Sebenarnya rumah yang ditempati ayah untuk dua keluarga, perusahaan memberi keistimewaan padanya untuk menempati sekaligus, tak heran dikampung rumah kami yang paling besar.
Lembut Berhati Batu
Selain bertetangga, aku, dan tiga teman gembalaku sekolah di SD yang sama. Ninin dan Anto adik kelas sementara Entit dan aku sekelas. Meski satu ayah, watak Ninin dan Entit bertolak belakang. Yang satu tulus, lembut dan mudah menangis, sedangkan lainnya ketus dan sangat acuh. Ninin memiliki perawakan kurus dan wajah manis, namun dibalik itu tersimpan hati keras seperti batu, kalau punya kemauan pantang menyerah sampai keinginannya terwujud. Sebaliknya, Entit yang senang membuat adiknya menangis bertubuh gemuk dan pendek turunan bapaknya yang cebol. Kepribadian kedua gadis ini ibarat bumi dengan langit, benar-benar beda.
Di kampung jarang perempuan kecil seperti Ninin. Meskipun berparas lembut kalau sudah marah seperti kucing mengamuk terinjak buntutnya, mencakar-cakar setelah itu jinak kembali. Saat hati senang ia tertawa lepas tanpa beban, badannya langsing seimbang dengan tinggi dan berat tubuhnya. Rambutnya lurus sebahu saat berlari tersibak menampakan bagian lehernya yang putih. Menjaga sapi ia garang bak laki-laki bertolak belakang dengan sifat manjanya ketika bermain. Menilai semua kepribadiannya tak dipungkiri aku menaruh kagum padanya.
Ninin sangat gesit berlari. Pernah, kami adu cepat sepanjang lima puluh meter ia hanya kalah tipis dariku bahkan sanggup mengalahkan Anto yang memiliki badan kekar dan sangat hitam. Sedangkan Entit, cara lari anak ini seperti melawan berat tubuhnya, sempat kakinya tersandung akar pohon hingga terjungkal, kami terpingkal-pingkal melihatnya bergulingan di tanah. Tak terima jadi bahan tertawaan sumpah serapah mengalir deras dari mulutnya lalu melempari kami dengan biji-bijian dan ranting-ranting pohon karet, kami pun semburat berlarian.
Jarang orang tertarik dengan Entit karena gaya bicaranya ketus. Anto yang berbadan gempal tak jarang beradu mulut dengannya, aku pun tak pernah ambil pusing atas semua tingkah laku anak ini. Bukan pada temannya saja bicara kasar, dengan adiknya pun demikian, sering kulihat Ninin dibuat menangis oleh kata-katanya. Ketika menjaga sapi ia lebih banyak sibuk dengan diri sendiri membiarkan adiknya kewalahan. Tak sampai hati jika kulihat Ninin kelimpungan sendirian, ingin sesekali kubantu meringankan bebannya saat hewan ternaknya berlarian tak tentu arah, namun niat itu kuurungkan takut terjadi salah pengertian, lagi pula aku masih punya tanggung jawab dengan sapiku. Biasanya, kalau sudah tak sanggup mengatur peliharaannya airmata menetes dari kelopak matanya yang lebar.
Perlakuan kurang adil yang didapat Ninin sering kuutarakan pada keluargaku di rumah. Tanggapan mereka biasa-biasa saja karena maklum betul dengan sifat-sifat Entit jarang mau membantu adiknya. Saking sering kuceritakan perihal ini berujung pada praduga yang tidak berdasar, mereka mulai menebarkan fitnah menyesatkan bahwa aku mulai suka dengan gadis tetangga sebelah itu, sampai akhirnya mereka mengikrarkan Ninin sebagai pujaan hatiku. Betapa malunya diriku sampai-sampai tak tahu harus kutaruh dimana mukaku. Sejak saat itu tanpa kusadari aku mulai menjaga jarak dengan Ninin, setiap kali bertemu perasaan malu kerap menyeliputiku. Saat mengembala bersama lebih sering aku melayani obrolan Anto atau si Cebol guna menghindari rasa canggung. Tapi lambat laun Ninin mulai merasakan perubahan sikapku, mungkin ia penasaran mendapatiku tak sehangat dulu dan cenderung menghindar ketika diajak bicara. Sering kudapati ia mencuri-curi perhatian, bahkan yang kurasa aneh adalah tatapan matanya mulai memancarkan sinar yang tak pernah kulihat dari dirinya sebelumnya. Setiap kali matanya memandang berubah seperti magnet, menarik-narik keluar jantungku membuatku makin kikuk. Tidak nyaman dengan keadaan itu aku mulai sering mengasingkan diri dari ketiga temanku.
Namun perasaan gundah tak juga sirna meskipun kami sedang tidak bersama. Saat di rumah, wajah lembut Ninin terus menerus melintas dalam benakku, semakin keras kubuang semakin jelas tatapannya tergambar menusuk-menusuk jantung, benar-benar bingung tak tahu aku harus berbuat apa. Dalam hati sempat kusumpahi semua kakakku yang menjadi penyebab dari semua kegalauan hatiku. Untungnya perihal ini tak sampai dimengerti Anto maupun Entit, dan aku berharap mereka tak sampai tahu masalah yang kuanggap aib bagi diriku itu kecuali Ninin yang bersuara. Tapi aku paham betul watak Ninin, ia tak kan mungkin mau mempermalukan aku di depan kedua anak-anak bengal itu.


February 24th, 2009 at 7:27 am
Wah ceritanya kayak di film..Seru deh, cukup menghibur…
Ini cerita beneran kan, pak?
February 24th, 2009 at 11:14 am
ya kisah masa kecil saya…