Senang tak terkira hatiku setelah memiliki 2 ekor sapi, membangkitkan semangat baru dalam menjalankan amanat ayah : mengembala. Sepulang sekolah, saat melintasi kandang sapi, lama kupandangi hewan mamalia itu. Seolah mengerti maksudku, kuajak mereka bicara, tentu dalam bahasaku. Aku tak sabar menunggu bulan-bulan saat indukan sapi beranak, gairahku semakin meningkat.

Setiap pulang sekolah, aku selalu lewat belakang rumah dan melintasi kandang ternak sapi, ayam, bebek serta kolam ikan. Sekolahku, SD negeri, berjarak 3 kilometer dari rumah, saat pergi dan pulang kutempuh dalam dua jalur berbeda.  

Pagi selepas sarapan, ke sekolah aku berangkat dari depan rumah, ke selatan menyusuri jalanan utama, melintasi kantor ayah dan perumahan staf perkebunan yang berpagar bambu hijau dan terawat itu. Lalu berbelok ke tenggara, potong jalur menyeberangi aliran sungai yang dangkal. Bila musim hujan, sungai akan meluap, terpaksa kami tempuh jalur memutar lebih jauh. Kami seberangi sungai dengan sebatang kayu seadanya, baru setelah itu ke selatan menuju sekolah kami yang dikelilingi pepohonan karet yang besar-besar dan tingi-tingi.

Saat menyeberang sungai, tak jarang karena ragu dan badan kurang seimbang, diantara kami ada yang tergelincir. Meski untung tidak basah kuyup, tapi setelah itu ke sekolah ditempuh dengan kaki tanpa mengenakan sepatu.

Pulangnya, tak lagi melewati rumah staf dan kantor tempat ayah kerja, potong kompas langsung menyeberang sungai yang membelah dataran lembah tepat di belakang rumah kami. Sungai ini merupakan bagian hulu dari sungai yang kami lewati saat berangkat. Kami pun memanfaat titian kayu dan bongkahan-bongkahan batu besar yang disusun berjajar sebagai pijakan kaki menuju seberang sungai.

Sebenarnya sungai tidaklah dalam, berhubung malas melepaskan sepatu, jadi kami gunakanlah kayu dan bongkahan batu sebagai alat bantu. Saat meniti, kami ambil posisi seperti hendak lari, dengan sedikit menekan dan mencondongkan badan ke depan agar setiap pijakan kaki pada kayu dan batu terasa pasti, menghindar dari tergelincir.

Seratus meter dari sungai, belakang rumahku menjelang. Aku masih harus mendaki bukit setinggi lima meter karena sungai berada di balik dataran lembah yang luas dan ditumbuhi rerumput hinjau, cocok bagi sapi kami mencari makanan.

Sungai itu sangat vital bagi masyarakat sekitarnya. Setiap pagi, orang-orang bergegas ke sungai untuk berbagai keperluan. Dari sekedar mandi, cuci pakaian, memandikan sapi sampai dengan “cuci mata”. Tapi, dari sekian aktivitas itu yang paling utama dan mendesak adalah buang hajat.

Kebutuhan pokok satu ini memang tak bisa ditunda-tunda bila sudah waktunya tiba. Manusia jelas beda dengan hewan yang bila terasa sesak langsung dikeluarkannya tanpa menghiraukan waktu dan tempat. Manusia memiliki adap, harus menggunakan tempat yang dibuat khusus untuk membuang semua sampah dari dalam perutnya.

Pada saat itu, setiap rumah di kampung kami umumnya memiliki satu kakus (di kota disebut WC), itupun dibelakang dan diluar rumah yang baunya sungguh-sungguh minta ampun. Kalau anda sedang kebelet maka harus bersedia membawa air satu ember penuh untuk menyiram kotoran anda sendiri, he…he. Tidak praktis bukan. Meskipun demikian, pembangunan kakus semacam itu sudah mempertimbangkan persyaratan bagi sebuah rumah yang sehat, misalnya jauh dari sumber air minum keluarga. Seperti di rumahku, letaknya 20 meter dari sumur, persis di depan kadang sapi. Kalau malam hari, sudahlah jangan sampai kebelet, lebih baik ditahan hingga esok paginya.  

Dibandingkan dengan WC jaman sekarang, kakus kami jelas hasil dari peradapan manusia yang tak pernah kenal akan kehidupan kota. Sebagian besar orang, tak terkecuali aku, lebih suka memanfaatkan sungai untuk buang hajat. Bisa dibilang, sungai merupakan WC umum yang dapat digunakan siapa saja, diwaktu yang sama pula. Jauh lebih praktis dibanding kakus.

Tak heran, setiap hari dipagi yang cerah, sungai langsung dipenuhi banyak orang, seperti dikejar-kejar setan pula. Mereka segera menurunkan celananya separuh kaki, berjongkok, melipatkan tangan kiri di sela-sela kaki, lalu merendam sebagian bokongnya dalam air. Sambil memainkan tangan kanannya di air, raut muka mereka mulai tampak berubah, seperti menahan-nahan sesuatu. Sebuah pemandangan yang tidak aneh lagi pada waktu itu.

 

Terseret Arus Sungai 

Bagiku dan teman-teman sepermainanku, sungai di kampung punya makna lebih dari sekedar tempat  untuk mandi atau sejenisya. Di situ, selepas sekolah, disela-sela mengembala sapi, kami menghabiskan waktu berenang dan bergelantungan di akar-akar pohon karet besar yang menjulur kebawah dasar sungai, lalu terjun bebas bak seorang atlet loncat indah di pelatnas. Sering kami berpetualang mencari ikan, bukannya memakai kail, tapi langsung merogoh lubang-lubang yang kami anggap sarang ikan. Terkadang bukannya lele, gabus atau belut yang didapat, melainkan ular yang kami pegang. Pada saat itu, sangat mudah menemukan ikan di sungai. Begitu banyaknya, sampai-sampai dibalik setiap bebatuan, pasti bersembunyi seekor atau dua ekor anakan ikan lele.

Saat musim hujan, tak jarang sungai meluap sampai menggenangi seluruh dataran lembah yang dilalui aliran sungai. Bagi orang tua kami, kondisi seperti itu jelas membahayakan anak-anak dan hewan ternak. Tapi bagi kami, banjir bandang merupakan momen yang ditunggu-tunggu untuk menguji nyali kami, anak-anak kampung udik.

Suatu ketika, aku dan Erwin, tetangga sekaligus teman satu kelas, memberanikan diri bermain di sekitar sungai yang sedang meluap dan arusnya deras. Berada di daerah banjir seperti itu menjadikan kami seperti mendapat tantangan yang besar. Aku termasuk jago berenang di sungai, meski dalam kondisi tidak banjir. Sempat ingin aku menceburkan diri dalam sungai berarus deras itu, untungnya Erwin masih berpikiran waras dan mengingatkanku untuk tak melakukan hal yang sangat bodoh itu. 

Kami tetap bemain di sekitar bantaran sungai yang ditumbuhi pohon-pohon keladi itu, sampai akhirnya kakiku tergelincir. Begitu cepatnya, sampai sulit bagiku menahan beban tubuh, sementara rumput yang kuinjak sangat licin, seketika itu pula aku terjatuh ke sungai. Sempat tubuhku terseret arus deras hingga beberapa meter. Hatiku mulai ciut, sementara sekelebatan kulihat Erwin hanya terpaku dan hanya memandangiku bertempur sekuat tenaga melawan arus. Untungnya, kesadaranku masih tetap tinggi dan bertekat tak mau aku mati sia-sia. Aku masih ingin hidup. Sekuatnya kukerahkan seluruh tenagaku, kugerak-gerakan badanku ke tepian, dan tanganku mulai mengapai-gapai akar rumput di pinggir sungai. Momen menegangkan itu berlangsung hanya beberapa detik, demikian cepatnya, tapi sudah cukup untuk menguras seluruh nyaliku hingga hanya menyisakan rasa takut tak terkira. Sempat terlintas wajah ayah dibenakku, terbayang seandainya ia tahu hampir saja aku pulang tanpa membawa badan, hanya nama.

Ya, hari itu nyawaku tertolong oleh akar-akar rumput. Andai saja  saat itu peganganku terlepas, barangkali aku baru dapat ditemukan beberapa hari kemudian, dalam kondisi terapung dan perut menggelembung berisi berliter-liter air. Mengerikan!

Sampai di rumah, tak sedikitpun aku memiliki keberanian untuk menceritakan semua itu pada angota keluarga, apalagi ayah. Sialnya, malam harinya ketika aku sedang makan sebelum berangkat ke masjid untuk mengaji, Erwin menghapiriku di rumah, dan ayah pun ada disitu. Kusesali, mengapa  Erwin tak kuminta saja tutup mulut atas semua kejadian siang tadi. Terlambat, ia pun kelepasan bicara. Akhirnya, seluruh cerita mengerikan siang tadi sampai juga ke ayah. Cerita Erwin mengalir deras mirip arus sungai yang nyaris menamatkan riwayatku. Sebenarnya tak perlu secara detail ia menceritakannya, cukup mengatakan aku bermain di pinggir sungai yang meluap dan sempat terseret arus, sudah cukup untuk membuat raut wajah ayah merah padam.

Sepanjang perjalanan ke mesjid, aku terisak tak kuat menahan tangis. Sepanjang hidupku tak pernah aku dipukul ayah, dan memang tak pernah sekali pun ia menghukum kami, anak-anaknya, menggunakan pukulan. Ia hanya marah jika kami berbuat kekeliruan teramat berat. Kekeliruan yang sebenarnya merugikan diri kami sendiri. Aku sangat takut murka ayah.

 

 

Posting Terkait