Sebagian besar masa kecil kuhabiskan dengan sekolah, mengembala dan bermain. Mengembala kambing relatif ringan, tinggal mengeluarkan dari kandang dan membiarkan mereka mencari makanan sendiri tanpa perlu ditunggu seharian. Selebihnya, aku bebas bermain.

Tak khawatir kambing hilang atau dicuri ?

Seingatku, jaman dulu sedikit orang mempunyai niat jahat mencuri kambing yang bebas keliaran. Kalaupun hilang bukan karena dicuri, tapi sebab kecerobohan kambing itu sendiri, misalnya tersesat atau tertinggal dari kelompoknya. Karena terlalu asyik dengan makanan mereka sering lupa waktu, kalau sudah begitu akan bingung sendiri dan tak tahu jalan pulang.

Sebab lain kambing hilang adalah terlalu asyik bermain, ini sering terjadi pada anakan. Kalau sudah bermain mereka suka lupa bahaya mengancam, misalnya terperosok kedalam lubang dalam seperti yang menimpa anakan kambing beberapa waktu lalu.

Kalaupun ada kambingku yang tak pulang paling lambat esoknya sudah kutemukan. Lagi pula, sesama kambing punya solidaritas yang tinggi, satu sama lain saling menjaga, pergi dan pulang bersama.

Kini Aku Punya Sapi

Karena begitu banyak jumlah kambing yang kami punya semakin susah pula merawatnya, itu kata ayah. Aku sih tak ambil pusing. Tugasku hanya melepaskan dan sore hari memasukan ke kandang. Tak tahu kapan sudah direncanakan, suatu malam ayah mengatakan kalau sudah bertemu dengan orang yang akan membeli semua kambing kami. Pertama diberitahu aku sedikit sedih, tapi begitu ayah berkata akan menukar semua kambing dengan beberapa ekor sapi sontak aku gembira.

Di desa, memelihara belasan atau puluhan kambing adalah hal lumrah, banyak dari tetangga juga melakukannya. Sedangkan untuk sapi hanya segelintir saja yang punya. Dari dulu memang ingin sekali aku memiliki sapi. Pikirku, jika mengembala sapi seperti Anto–teman yang rumahnya persis sebelahan denganku sekaligus sesama pengembala, sesekali aku ingin naik di punggung sapi selayaknya menunggang kuda.

Pada masa itu, aku dan teman-teman memang terobsesi dengan kuda. Ingin sekali aku menunggang hewan yang hebat berlari ini seperti yang sering dilakukan Charles Phillip Ingalls dalam serial “Little House on The Prairie” yang saban minggu kutonton di TVRI. Selama tinggal di desa belum sekalipun kusaksikan hewan ini secara langsung. Pernah kuutarakan pada ayah keinginanku, ia pun berjanji akan membawaku ke kebun binatang di kota. Tapi saat hari yang kutunggu-tunggu hampir tiba, renacana itu batal. Penyebabnya adalah kecerobohanku sendiri. Saat mencari rumput, kakiku tersayat arit dan menimbulkan luka cukup parah. Aku baru bisa jalan setelah 2 minggu kemudian.

Tapi ada cara lain untuk menyalurkan keinginanku menunggang kuda. Setahun sekali, perusahaan tempat ayah kerja selalu mendatangkan beberapa ekor kerbau untuk disembelih pada perayaan kurban. Hewan bertanduk yang satu keturunan dengan banteng itu memiliki tubuh besar, bulu lebat dan berkulit coklat. Kerbauk-kerbau itu didatangkan dua minggu sebelum penyembelihan, oleh karena itu harus dipelihara dan digembala oleh petugas khusus dari perkebunan.

Kesempatan ini kumanfaatkan sebaik-baiknya bersama temanku, Anto dan Toni, untuk menaiki kerbau. Kalau saja si pengembala tahu kerbaunya kami ganggu apalagi dinaiki, sudah pasti kami dibentaknya. Tak terhitung berapa kali kami sudah dimaki. Tapi tak sedikitpun semangat kami turun apalagi memikirkan bahaya mengancam seandainya terjatuh atau tertanduk kerbau. Kami mencuri-curi kesempatan saat si pengembala sedang istirahat atau tertidur. Dan akhirnya kesempatan itu pun datang.

Sudah menjadi sifat dasar anak-anak yang tak pernah jera sebelum terkena batunya, kami pun begitu waktu itu. Benar saja, Toni yang berbadan kurus dan tinggi terjatuh saat baru berhasil duduk di punggung kerbau. Posisi jatuhnya tepat di tanduk sebelum mendarat di tanah dengan posisi tangan lebih dulu. Akibatnya sungguh fatal, tangan kanannya patah dan langsung hari itu juga ayahnya membawa ia ke sangkal putung. Sejak saat itu, tak pernah lagi aku mendekati kerbau-kerbau yang akan disembelih. Bukannya takut jatuh, tetapi menghindari amarah ayah jika ia tahu aku mendekati kerbau lagi.

Pada akhirnya, ayah menukar semua kambing dengan 2 ekor sapi, seekor indukan yang sedang bunting 2 bulan dan seekor jantan usia 3 tahun. Bukan main senang hatiku. Aku merasa kini selevel dengan Anto dan Ninin, teman-teman gembala yang telah lama memiliki sapi. Sebenarnya bisa saja ayah menambah satu ekor sapi lagi, berhubung kakak di kota butuh dana maka disisakanlah uang hasil penjualan kambing untuk biaya mereka. Lagi pula, indukan sapi yang baru ayah beli sedang bunting, kupikir pasti tak sampai setahun lagi akan beranak. Sejak saat itulah, setiap hari pikiranku terus menerus terbayang saat-saat sapiku melahirkan anakan yang pastinya sangat lucu.

Posting Terkait