Ayah dan Cerita Masa Kecil (2)
Perlu juga kuceritakan mengapa hanya aku yang bertugas mengembala kambing. Saat itu aku kelas 4 SD, sedangkan 2 kakakku yang lelakiāsi sulung melanjutkan sekolah lanjutan atas di kota karena di desa tidak ada, sementara kakak nomor 3 fokus pada pendidikan dan ekstra kurikuler.
Kakak nomor 3 memang punya potensi besar dibidang olah raga dan pendidikan, besar kemungkinan bakatnya turunan ayah. Dalam bidang olah raga ia pernah menyabet juara satu bulu tangkis tingkat kecamatan mewakili sekolah. Sedangkan dibidang pendidikan, karena selalu juara kelas, ia diikutkan lomba cerdas tangkas tingkat kecamatan sampai provinsi.
Meski hanya juara 3 tingkat provinsi, ia telah mengharumkan nama keluarga, terutama ayah. Pada masa itu, siapa yang tak kenal ayah kami berkat prestasi gemilang anaknya, apalagi prestasi itu yang pertama diraih sekolah di desa kami. Ya, kakak nomor 3 menjadi putra kesayangan ayah. Mungkin saking bangganya dengan prestasi itu ayah membebastugaskan ia dari pekerjaan di rumah. Kalau hanya menyiram tanaman atau sayuran di belakang pekarangan sesekali ia lakukan, tetapi untuk merawat kambing dan sapi semuanya dibebankan padaku yang dibantu nenek sebagai pengawas lapangan. Ayah hanya menyuruh kakak nomor 3 fokus pada pelajaran dan olah raga.
Bagaimana dengan kakak nomor 1? Saat itu ayah benar-benar serius mempersiapkan pendidikan kakak tertua. Ayah tidak ragu sedikitpun mengirimnya ke kota melanjutkan sekolah tingkat atas dan kuliah. Untuk menambah biaya kuliah yang cukup besar yang tidak cukup dari uang gajian solusi ayah adalah menjual beberapa ekor kambing. Selain kakak pertama, kakak kedua yang perempuan juga sekolah di kota dari hasil penjualan kambing. Bila ayah butuh duit untuk biaya sekolah kakak, saat ia mengatakan akan menjual beberapa ekor kambing ada perasaan sedih mengalir dalam diriku karena bakal berpisah selamanya dengan hewan-hewan peliharaanku.
Hilangnya Anak Kambing Kami
Lambat laun aku mulai mengerti tujuan dipeliharanya puluhan ekor kambing, ternyata untuk memenuhi biaya sekolah. Aku sendiri, prestasi pendidikan dan olah raga di sekolah tergolong biasa, tak heran ayah memberiku tugas sampingan mengembalakan kambing. Bagiku tugas ini tidak berat bahkan kuanggap mulia hitung-hitung membantu ekonomi keluarga.
Sebenarnya tidak seharian penuh aku mengembala. Sepulang sekolah, hanya perlu mengeluarkan kambing dari kandang, kemudian membiarkan mereka bebas mencari makanan sendiri. Hanya saja aku perlu mencari rumput untuk makanan tambahan bagi kambing. Selepas Ashar kambing-kambing akan pulang tanpa diperintah dan aku tinggal memasukannya ke kandang.
Pada saat-saat tertentu memang aku harus meluangkan waktu penuh bagi peliharaanku itu. Seperti suatu ketika saat aku menunggu mereka kembali, biasanya kuhitung dulu jumlahnya sebelum kumasukan ke kandang. Tak seperti biasa, hari itu jumlahnya berkurang satu. Takut salah hitung kuulangi lagi menghitungnya, namun tetap saja kurang. Kuperiksa dan terus kuingat-ingat mana yang tidak pulang, indukan ataukah anakan.
Beberapa bulan sebelumnya satu diantara indukan kambing beranak. Setelah kuamat-amati memang anakan itu yang tak terlihat. Aku mulai cemas, setelah semua kumasukkan, secepat kilat kutemui ayah dan kuceritakan semuanya. Ayah memintaku tak usah cemas, ia berjanji menemaniku esok hari untuk mencari anakan kambing itu.
Pagi-pagi buta keesokan harinya aku telah siap untuk perjalanan pencarian. Ayah pun menyuruhku sarapan dulu, tapi aku tak bernafsu. Paling tidak kata ayah aku harus memakan sebutir telur ayam kampung rebus. Ayah memang selalu sarapan telur rebus setengah matang sebelum berangkat kerja. Setiap pagi ibuku menyiapkan piring berisi dua atau tiga telur rebus setengah matang di meja makan. Biasanya ayah membelah telur tersebut sebelum dikupas, lalu menyantapnya sedikit demi sedikit dicampur garam. Kata ayah memakan telur rebus setengah matang membantu kemampuan otaknya menyelesaikan tugas-tugas kantor.
Pagi itu aku sudah tak sabar untuk menemukan anakan kambing yang hilang. Segera aku dan ayah menyusuri jalanan yang selalu dilalui kambing-kambing kami. Mereka memiliki jalan tetap yang dilalui setiap hari yang tak akan keluar dari jalur yang telah dilewati. Seperti manusia, kambing pun memilih pemimpin, biasanya yang jantan dan tertua. Pejantan inilah yang dipatuhi kelompoknya mencari tempat-tempat makanan dan menentukan arah pulang.
Kelompok kambing kami memiliki satu tempat tujuan yang merupakan lumbung makanan bagi mereka. Wilayah ini banyak ditumbuhi rerumputan muda dan segar. Biasanya, setelah puas dan kenyang makan di daerah ini segera mereka menyusuri jalanan pulang. Jalan yang ditempuh bukan lagi jalanan yang dilalui saat mereka berangkat, tapi lewat jalanan lain. Karena rumah kami di daerah timur, jalan yang ditempuh adalah ke arah utara kemudian ke barat baru kembali pulang. Begitu dijalani kambing-kambing kebanggaan kami setiap hari.
Aku dan ayah langsung ke daerah utara, wilayah yang merupakan surga makanan yang ditumbuhi rerumputan hijau nan segar. Benar saja, dari jauh samar-samar terdengar suara jeritan. Meskipun semakin dekat suara itu tetapi belum juga kami lihat adanya anak kambing. Sampai akhirnya kami temukan asal suara ternyata dari sebuah lubang kecil yang tertutup rerumputan lebat dan diatasnya melintang sebatang kayu tua yang ditumbuhi jejamuran. Jelas disitulah suara berasal. Aku sempat membayangkan seandainya diriku yang terperangkap dalam lubang sesempit itu dan jauh dari keramaian, sungguh menyeramkan !
Segera ayah turun kedalam lubang dan mengangkat anakan kambing yang kehabisan tenaga karena stres terpisah dari induknya semalaman. Akhirnya, sepanjang perjalanan pulang aku menggendong anakan kambing itu dengan perasaan suka cita. Ayah sendiri tersenyum lebar begitu melihatku ceria menemukan kembali anakan kambing yang baru hilang.


Leave a Reply