Bengkel ? Gule kambing ? Adakah hubungannya ? Ada, terkait dengan pengalamanku  sekitar 10 tahun lalu.  Jika diingat-ingat selalu bisa bikin tersenyum…

waktu itu aku masih lajang, sering kelayapan dan “cangkruk” (kumpul dan ngobrol dalam bahasa Surabaya) dengan teman-teman. Aku punya dua teman yang sering jalan bareng. Banyak yang kami bicarakan, salah satunya keinginan untuk coba-coba berbisnis, ya kecil-kecilan saja..

Salah satu dari temanku, sebut saja Badrul, kebetulan saat itu ia telah memiliki usaha, yaitu warung bakso dengan 3 orang karyawan. Memang ia punya bakat wirausaha terutama makanan, keahlian memasak didapatnya sejak di kampungnya dulu dan pernah berhasil diterapkan di Jogja.

Akhirnya, kami putuskan bisnis makanan, hitung-hitung masih terkait dengan keahlian Badrul. Nah, kebetulan sekali ada peluang melakukannya. Waktu itu, Pemkot bekerjasama dengan salah satu bos terkaya di Surabaya, berencana membuka sebuah pusat jajan dan makanan dengan konsep yang mengadopsi dari Cina, di salah satu tempat di Surabaya.

Kya-Kya namanya, terletak di sepanjang jalan Kembang Jepun yang membentang mulai dari Jembatan Merah hingga perempatan pasar Kapasan di sebelah barat. Di kiri kanan sepanjang jalan itu disiapkan rombong-rombong makanan, sementara di tengah-tengah jalan disediakan meja dan kursi untuk para pembeli.

Kya-Kya mulai buka pukul 18.00 dan tutup dini hari. Jadi, di atas jam 5 sore, daerah yang pada siang hari merupakan pusat perdagangan terbesar di Jawa Timur itu harus sudah “steril” dari semua jenis kendaraan.

Ada sekitar 500 “PKL berdasi” yang memiliki rombong di tempat ini. Para PKL itu (termasuk kami) harus membayar sejumlah uang tertentu untuk biaya meliputi rombong yang sudah disiapkan, kursi, penerangan dan lain sebagainya. Mereka hanya perlu menyiapkan makanan yang akan dijual. Kusebut “PKL berdasi” karena hanya yang berduit saja yang bisa mengikuti usaha ini.

Setiap jam 6 sore, para pemilik rombong mendatangkan makanannya menggunakan mobil-mobil keren, bahkan ada yang ber-mercy dan BMW. Kami sendiri mengangkut masakan kami dengan  Opel Blazer si Badrul yang kakaknya kini sudah jadi orang top itu.

Singkat cerita, hari pertama pembukaan kami sudah menyiapkan makanan andalan, yaitu gule kambing. Idenya jelas dari si Badrul, ia ahli masalah ini termasuk yang memasak.Siapa yang menyajikan ? Tidak perlu cari orang, kami memakai tenaga 3 orang karyawan Badrul, sedangkan aku dan temanku hanya bantu-bantu saja jika diperlukan….

Untuk menarik minat pembeli, kami  menyiapkan nama unik untuk rombong kami: “Bengkel Gule Kambing”. Idenya juga dari si Badrul—teman satu ini emang terkenal banyak ide…, “Kalau di Jogja, nama-nama aneh biasa dipakai untuk warung-warung makanan, membuat pelanggan pingin mencicipi”, ia berdalih.

Memang terbukti. Begitu malam pembukaan, “Bengkel GUle Kambing” mendapat banyak perhatian pengunjung. Bukan hanya dari yang ingin membeli, pemilik rombong lain pun ikutan melirik. Sebab setiap orang yang melintasi tempat kami, kalau gak mampir ya pasti senyum-senyum. Tak hanya bapak-bapak, ibu-ibu, kakek-nenek, dan muda-mudi, anak kecil yang baru bisa baca pun tampak serius melihat tulisan besar di spanduk rombong kami. Mungkin pikirnya, “kok ada bengkel malam-malam hari masih buka….”.

Saking rame dan antusiasnya pengunjung ingin mencicipi gule kami, akhirnya aku dan temanku ikut turun tangan juga. Temanku membantu membuatkan minuman atau jus buah, sedangkan aku menyiapkan gule ke dalam mangkuk. Suatu ketika, seorang pembeli pria, berkulit kuning dan tampaknya profesional muda yang baru pulang kantor (dari pakaiannya yang rapi) serius memperhatikan ”bengkel” kami.

Ia pun segera memesan satu porsi gule, kebetulan aku yang menyajikannya. Dengan sopan dan senyum ramah aku layani pembeli terhormat ini. Sempat kuperhatikan saat ia makan, dengan lahap ia menyantap dan menikmati gule kami (bisa jadi karena ia kelaparan). Tak sampai lima menit, si pria tadi sudah kembali lagi dengan mangkuk yang sudah kosong di tangannya, pertanda dia mau nambah, laris manis…

Dengan rasa bangga segera kutuangkan kembali gule kambing kedalam mangkuknya. Aku aduk-aduk dulu kuah gule dalam panci, setelah itu aku ciduk kuah dan danging serta beberapa tulang ke mangkuknya. Saat itu aku memang tak punya pengalaman menyajikan makanan, akibatnya tak hanya tulang kecil yang kumasukkan kedalam mangkuk, tulang rahang kambing yang gigi-giginya masih lengkap kumasukkan juga. Kupikir, semakin besar tulang yang kusajikan semakin senang pula pembeli ini menerima, hitung-hitung bonus lah….

Tapi aku baru sadar setelah mengetahun reaksi pria ini  sedikit terkejut (dari raut mukanya) begitu melihat mangkuknya terisi tulang rahang kambing yang  menganga (karena kesakitan saat disembelih kali…). Meski terkesima, pria tadi tidak berkomentar sama sekali dan segera kembali ke meja makannya. Tapi siapa yang tahu kalau setelah itu selera makannya langsung lenyap begitu melihati rahang kambing dengan gigi-gigi yang masih utuh.

Kuceritakan hal ini pada Badrul dan yang lain sontak mereka tertawa ngakak…

Reblog this post [with Zemanta]

Posting Terkait