Ini cerita teman waktu masa SMA dulu di Medan. Waktu itu ada kegiatan perkemahan rutin yang diadakan di kawasan Sibolangit, sebuah dataran tinggi di kabupaten Deli Serdang, 3 jam perjalanan dari kota Medan menuju daerah wisata Berastagi. Wilayah ini terkenal sebagai tempat camping tahunan kelompok- kelompok pramukan di provinsi Sumatra Utara.

Daerah yang dijadikan tempat perkemahan kelompok Iwan, begitu teman saya disebut, disekitar  lembah di dekat sebuah telaga kecil. Telaga itu biasa digunakan untuk keperluan minum, mandi, wudhu dan lain sebagainya.

Sehari di perkemahan, pagi- pagi  kelompok itu akan mengadakan sebuah kegiatan yang akan dilaksanakan di kaki bukit, tak jauh dari lembah itu. Karena suatu alasan, Iwan yang badannya bongsor minta ijin untuk tidak mengikuti kegiatan. Untungnya diijinkan anggota yang lain. Pikir mereka, dengan berat badan over seperti itu jelas sangat menguras energi besar menaiki bukit. Pertimbangan itulah yang membuat anggota lain  merasa maklum.

Akhirnya diputuskan Iwan tetap tinggal di kemah, tapi sebagai konpensasi ia diharuskan mengerjakan tugas memasak air untuk minuman anggota yang lain.

Dengan senang hati dan wajah sumringah tugas tersebut dilaksanakan Iwan. Segera ia menuju telaga untuk mengambil air. Ketika hendak menciduk air dengan sebuah ember, tiba-tiba ia menatap ada seekor ikan berukuran besar sedang berenang pelan mendekatinya. Karena merasa sangat terkejut, tubuh Iwan tak  berubah sedikit pun, matanya lekat memandangi hewan itu. Yang membuat Iwan jadi kikuk, tiba-tiba mata ikan itu berkedip kepadanya. Tubuhnya mendadak panas dan semua bulu kuduknya berdiri. Tanpa basa-basi ia ambil langkah seribu meninggalkan ember yang dibawanya. Ia masuk kedalam kemah, lalu menjatuhkan diri di dalamnya.

Jam dua belas siang, rombongan pramuka kembali ke perkemahan. Mereka merasa sedikit aneh karena tidak melihat Iwan di sana. Tapi akhirnya didapati juga di dalam kemah, dengan posisi tubuh seperti terserang demam tinggi.

Mereka semua bingung, apakah Iwan sedang jatuh sakit ? Tapi kalau sakit mengapa tiba-tiba saja padahal pagi-pagi wajah anak itu masih ceria. Salah seorang diantaranya memegangi tubuh dan wajah Iwan yang pucat pasi, ” Wan, Wan..kamu sakit ? ” sambil mengguncang-guncangkan tubuh Iwan. Dengan tatatapan kosong Iwan bergeming. Kebetulan masih ada air sisa perbekalan salah satu anggota pramuka, sedikit diteteskan ke mulut Iwan, hasilnya wajah tegang Iwan mulai berkurang.

Setelah satu jam berusaha menenangkan Iwan, salah satu teman kembali bertanya, ” Selama kami tinggal, apa saja yang telah kamu lakukan Wan? Apa kamu terjatuh tadi ketika mengambil air ?”

Dengan wajah masih pucat dan nada bergetar suara Iwan mulai keluar, “Wak…wak..tu aku mengambil air di telaga, kulihat ada seekor i..i..ikan besar,” bicaranya terputus-putus. Anggota yang lain serius menyimak seperti mendengarkan  orang sekarat yang sedang berwasiat. “Ti..ti..ba – ti..ba.. i..ikan itu berenang ke arahku, dan….ia main.. mata kepadaku…..,” bicaranya terhenti, sepertinya tak sanggup lagi ia meneruskan. Anggota lain ada yang merinding, kebingungan, tapi ada juga yang geli mau ketawa….

Reblog this post [with Zemanta]

Posting Terkait