Laskar Pelangi Kehilangan “Nyawa” ?

Posting ini mungkin agak basi. Membicarakan film yang sudah lama hilang dari peredaran dan ulasan media. Sekedar ingin mengungkap uneg-uneg tentang film ini, pandangan saya agak berbeda dengan kebanyakan penikmat film Laskar Pelangi.
Setelah sekian bulan orang tak lagi membicarakannya, saya baru berkesempatan menonton film ini beberapa mingu lalu, itupun lewat video yang baru keluar di rental VCD.
Saya termasuk penggemar cerita ini versi buku. Sejak buku-buku Forest Gump, Musahi, The Kite Runner dan sebagainya (terbitan luar), maka Laskar Pelangi adalah salah satu buku lokal yang saya gandrungi. Ceritanya mengalir lepas, bahasanya renyah dan enak dinikmati hingga berlembar-lembar bab yang tersisa.
Ketika desas-desus akan diangkat Laskar Pelangi ke layar lebar, saya tidak antusias mengikuti bakal hadirnya film garapan sutradara Riri Reza itu. Saya pikir tidak akan jauh beda dari film-film lokal lainnya yang ceritanya dangkal, mengada-ada, sok modern dan selalu kehilangan “nyawa”. Satu-satunya film anak negeri yang saya anggap punya “roh” adalah sinetron “Si Doel Anak Sekolahan” garapan Rano Karno.
Pada saat Laskar Pelangi diputar perdana di bioskop-bioskop hingga beberapa minggu kemudian, tak sedikitpun saya ingin menonton, meskipun banyak media termasuk blogger mengunggkapkan kesan dan kepuasan mendalam setelah menyaksikan.
Selama kurang lebih 2 jam menyaksikan, benar saja “rasa kecewa” kembali melanda saya. Bukan saja ada perbedaan antara cerita yang terlanjur terekam di kepala saya (lewat membaca buku) dengan yang tergambar di film, saya juga tak menemukan “roh” (baca: inspirasi) selama 2 jam menonton. Itulah yang saya sebut film ini telah kehilangan ”nyawa”.
Saya pikir besarnya promosi, termasuk oleh penulis bukunya sendiri, membuat film ini ”meledak” sehingga “menjebak” para penonton untuk mengantri berebutan tiket.
Potensi Laskar Pelangi untuk bisa menjadi film bagus sebenarnya terbuka lebar. Bisa dilihat dari setting latar yang menggambarkan budaya lokal dan realitas pendidikan minim yang banyak ditemui di negeri ini. Sebagian besar cerita hanya menampilkan penggalan-penggalan cerita yang ada di buku tanpa menambahkan kekuatan baru untuk film secara keseluruhan. Mungkin satu-satunya keberhasilan untuk film ini adalah kemampuan menyedot penonton, yang kabarnya melampuai angka 4 juta.
Saya jadi ingin tahu, apa kira-kira komentar Tom Hanks bila ia sempat menonton Laskar Pelangi yang disebut- disebut orang sebagai film yang sangat bagus itu…. ??

![Reblog this post [with Zemanta]](http://img.zemanta.com/reblog_e.png?x-id=2c0abfd7-12b2-4c69-8180-d8da3c4cf569)

May 12th, 2009 at 3:52 pm
Ooo…. Berarti lebih seru baca di buku dong. Temen aku seneng banget baca ebook laskas pelangi. Tapi, teman yang satu merasa kurang puas setelah melihat cerita di layar lebar.
Jadi, benar sekali menurut pendapat pak Sof.
May 12th, 2009 at 3:55 pm
Selamat menulis kembali lagi pak. Setelah kira2 2 bulan absen dari aktivitas blogging.
May 13th, 2009 at 11:47 am
mas tony sendiri sudah menyaksikan film atau membaca bukunya ? Thanks mas atas dukungannya
May 13th, 2009 at 3:44 pm
Kalo saya sendiri sudah dipaksa temen buat baca buku dan nonton filmnya, tapi belum juga dilaksanakan. Tapi sudah pernah baca selintas di wikipedia.