Posting Lagi
Akhirnya, energi itu muncul kembali. Ya, energi untuk menuangkan tulisan-tulisan dalam blog ini sepertinya hilang begitu saja dalam diri saya. Sekitar satu bulan saya berhenti menulis, merasa jenuh dan seperti kehilangan mood menulis.
Akhirnya, energi itu muncul kembali. Ya, energi untuk menuangkan tulisan-tulisan dalam blog ini sepertinya hilang begitu saja dalam diri saya. Sekitar satu bulan saya berhenti menulis, merasa jenuh dan seperti kehilangan mood menulis.
Ya, hari itu nyawaku tertolong oleh akar-akar rumput. Andai saja saat itu peganganku terlepas, barangkali aku baru dapat ditemukan beberapa hari kemudian, dalam kondisi terapung dan perut menggelembung berisi berliter-liter air. Mengerikan!
dinginpun tak sanggup berkata
ketika keagunganmu tiba,
mengusik
mencabik
semak liar terbakar sepi
dinding hitam terpaku
harapan bisu
janganlah cepat berlalu
ranting kembali bersemi
angin tiupkan kepalsuan
tapi ia tetap berharap
esok kamu hadir

Beberapa waktu lalu, aku berkesempatan mengunjungi kampung salah satu teman kantor di Probolinggo. Tepatnya kecamatan Tongas—jarak 2 kilometer berbatasan dengan Nguling, Pasuruan. Wilayah yang sebagian besar berpenduduk petani ini dilalui jalur padat kendaraan antar propinsi Jawa – Bali.
Sebagian besar masa kecil kuhabiskan dengan sekolah, mengembala dan bermain. Mengembala kambing relatif ringan, tinggal mengeluarkan dari kandang dan membiarkan mereka mencari makanan sendiri tanpa perlu ditunggu seharian. Selebihnya, aku bebas bermain.
Tak khawatir kambing hilang atau dicuri ?
Perlu juga kuceritakan mengapa hanya aku yang bertugas mengembala kambing. Saat itu aku kelas 4 SD, sedangkan 2 kakakku yang lelaki–si sulung melanjutkan sekolah lanjutan atas di kota karena di desa tidak ada, sementara kakak nomor 3 fokus pada pendidikan dan ekstra kurikuler.
Ini kisah saat aku kecil, sekitar 25 tahun silam ketika masih duduk di bangku SD antara kelas 4 sampai 6. Di suatu desa yang mungkin belum dikenal siapa pun karena setahuku tak ada orang hebat lahir dari dusun ini.